KEPEMIMPINAN







Sumber gambar : shiftindonesia.com 


Kehidupan sejatinya adalah suatu hal yang tidak bertahan lama, didalam kehidupan yang manusia lewati merupakan rangkaian takdir, yang telah dijelaskan dalam Qs Al-Ahzab ayat 38, sebagaimana Allah SWT berfirman: 
مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيمَا فَرَضَ اللَّهُ لَهُ ۖ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا
Artinya: Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.

Dari ayat yang telah dituliskan, bahwasanya Allah SWT telah menetapkan seluruh takdir di dunia ini, baik manusia, hewan  hingga alam dengan ketentuan takdir yang telah ada, sebagaimana takdir sudah ditetapkan dari zaman azali, yang terbagi menjadi 2, yaitu takdir mubram (takdir yang tidak dapat dirubah oleh manusia)dan takdir muallaq (takdir yang dapat diubah dengan usaha manusia). Bahkan bisa dikatakan rangkaian alur cerita yang telah ditulis oleh sang Khaliq jalan ceitanya. Manusia hanya sebagai pelaku dalam cerita kehidupan tersebut, disini tergantung dari manusia itu sendiri maukah menjalankan yang telah tertulis dengan baik, bukan hanya menuruti kemauan nafsu yang tidak akan habis. Karena antara keinginan dan kebutuhan memiliki perbedaan yang tipis. Dapat diartikan keinginan adalah suatu hal yang sebenarnya ketika dia tidak dilakukan atau dituruti, maka suatu keinginan itu tidak terlalu berpengaruh pada tujuan hidup, atau dapat dikatakan keinginan itu hanya bersifat sekunder. Sedangkan kebutuhan memiliki makna yaitu, suatu hal yang harus dipenuhi karena ketika tidak dipenuhi maka akan berpengaruh pada tujuan hidup manusia, dapat dikatakan kebutuhan merupakan suatu hal yang bersifat primer. Dari situ manusia sejatinya sudah harus bisa memimpin dirinya sendiri, mengatur segala kebutuhan yang perlu dipenuhi, bukan menuruti segala keinginan, yang mungkin itu semua tidak sesuai dengan skenario yang telah dibuat sebaik mungkin oleh Allah AWT.

Dari sebuah alur cerita yang telah dituliskan dengan sebaik mungki oleh Allah SWT, kini saya memiliki sepasang manusia yang sangat luar biasa, karena kasih sayangnya, pendidikan yang telah diberikan kepada saya dan masih banyak lagi yang mungkin tidak dapat saya sebutkan satu persatu yaitu kedua orang tua saya. Ketika 21 tahun yang lalu saya dilahirkan disebuah desa yang penuh sejarah tentunya, yaitu di Lampung Tengah, pada tanggal 24 November 1996. Meskipun saya dilahirkan ditanah lampung, tapi darah saya jawa, nama yang diberikan yaitu suatu nama yang memiliki makna yang tersirat yang harapan dari sebuah nama itu menjadi doa, yaitu Hindun Maisaroh. Kedua kata yang diberikan kepada saya ternyata memiliki sirah tersendiri dizaman Rasullallah SAW, adapun Hindun adalah seorang  wanita yang hidup dizaman Rasullulah yaitu Hindun binti Utbah, seorang wanita cerdas dan terhormat di kalangan Quraisy. Ia memiliki sifat-sifat yang jarang dimiliki kaum wanita pada umumnya. Ia fasih, percaya diri, berani, tegas, punya pandangan yang tepat, sekaligus cerdik dan berjiwa ksatria tinggi. Hindun sangat berpengaruh besar dalam perang Uhud, walaupun sempet terbesit di dalam pikirannya untuk membalas dendam kepada hamzah yang telah membunuh ayah dan pamannya dalam perang Badar, namun setelah itu ia mendapatkan hidayah dan kembali pada jalan islam yang benar. Sedangkan sirah dari kata kedua dari nama saya adalah Maisaroh yaitu, yang secara nama dizaman Rasullah SAW merupakan sahabat Rasul yang menjadi salah satu pendukung Rasul dalam berdakwah dan mengajak agar mau mengikuti Rasullah SAW, dalam segi kata (kata) Maisaroh memiliki makna kelapangan atau kemudahan, semoga dengan lantaran nama yang diberikan kepada saya dari kedua orang tua saya menjadi doa dan berharap dapat menjadi sosok yang lebih baik, amin. Saya dilahirkan dari pasangan suami istri yang merupakan pemimpin terhebat dalam hidup saya didunia saat ini, hingga saya bisa menjadi hindun yang sekarang. Karena tanpa mereka saya tidak akan berarti apa-apa. Walaupun sampai saat ini saya pribadi belum bisa memberikan hal yang terbaik untuk mereka, namun percaya dengan senyum dan rindu dari mereka adalah kekuatan untuk menjalani hidup. Saya dilahirkan dari lingkungan keluarga yang kedua orang tua saya adalah seorang pendidik di tingkat Sekolah Dasar dan Madrasah Aliyah, namun saya tidak pernah menemukan hal yang menekan saya untuk selalu melakukan hal-hal yang tidak saya senangi, semua ibu berikan dengan kasih sayang dan pendidikan pertamaku yang sangat luar biasa. Kebiasaan-kebiasaan yang diciptakan yang menjadikan saya untuk bersikap selalu semakin berfikir untuk menjadi anak yang lebih baik, saya memiliki dua saudara kandung, yaitu kakak dan adik, jadi saya berada di posisi kehangatan yang mungkin banyak dirindukan oleh orang lain.haha

Sifat dan karakteristik yang dimiliki oleh semua manusia di dunia ini pasti berbedaa, walaupun mungkin ada beberapa kesamaan antara manusia satu dengan yang lain. Sifat dan karakteristik yang saya miliki, sesungguhnya saya menyadarai apa kelemahan dan sedikit kelebihan yang saya miliki, namun disamping itu memang banyak penilain yang sama terhadap saya dari teman-teman saya,baik teman Sekolah Dasar (SD) sampai teman Perguruan Tinggi (PT), persepsi mereka terhadap saya hampir sama, mungkin ketika saya bertemu dengan teman SD, mereka akan menemui sedikit perbedaan pada diri saya, baik dari gaya berbicara, berpenampilan, hingga sikap saya, tapi semua itu tidak berubah drastis pada diri saya, karena sifat cengeng dan mental yang suka down, itu masih menyelimuti diri saya, padahal sebenarnya saya menyadari akan hal itu. Dengan saya menyadarinya maka dari itu saya selalu berusahan untuk menghilangkan sifat itu, karena menurut saya sifat itu membawa dampak yang negatif tersendiri untuk saya, terkadang memang segala perkataan orang disekeliling kita tidak perlu semua kita dengarkan, namun disisi lain saya kurang bisa menyaring dan mengambil masa bodo akan hal yang tidak penting, bahkan bisa merusak mood saya. Tapi saya selalu bersyukur dengan keadaan yang ada insyaAllah, karena melalui hal itu saya selalu terus instropeksi diri, selalu mengoreksi segala tingkah laku, perkataan saya, yang dapat menyingung bahkan menyakiti orang lain, agar lebih hati-hati dalam bertindak. Banyak juga teman-teman bahkan ibu dan bapak saya menilai saya, adalah sosok yang menyukai hal yang bersifat ramai-ramai, semacam suatu kumpulan bersama sekelompok anak untuk mencapai suatu usaha atau prestasi, bisa dikatakan lebih aktif di kegiatan outdor, tapi persepsi itu mulai menghilang ketika saya sudah berada di tingkat Madrasah Aliyah Negeri (MAN), karena saya kurang bisa mengatur waktu yang saya miliki, hingga terbentur antara kegiatan satu dengan yang lainnya.

Banyak orang yang mengatakan juga, saya suka ketawa, suka bercerita dan terkadang suka hal-hal yang bersifat energik. Karena menurut saya ketika kita dapat tertawa lepas, ketika kita dapat membawa suasana hati kita dengan situasi yang bahagia sebenarnya, itu merupakan refleksi yang paling mudah untuk pikiran dan bisa menjadi salah satu pembelajaran yang sangat berharga, karena ketika kita tertawa bersama teman-teman kita, maka kita pasti bertemu dengan lebih dari satu orang, atau minimal kita dapat berbicara, dan dapat bekerjasama untuk meraih suatu tujuan yang akan kita capai. Dengan memiliki suasan hati dan pikiran yang bahagia dan semangat untuk menjalankan suatu tujuan pasti akan mendapatkan hal yang positif. Maka dari itu keadaan hati dan pikiran sangat berpengaruh ketika kita bekerja. Mungkin dari sejak Sekolah Dasar, saya selalu mengikuti kegiatan-kegiatan yang beraliran keaktifan ketika diluar kelas, namun di kelas saya berusahaa menstabilkan akademik saya agar tetap stabil dan dapat memberikan yang terbaik. Mungkin kebiasaan yang sampai saat ini belum bisa berubah yaitu kurang baiknya saya dalam mengelola waktu, terkadang sering keteteran ketika dihadapkan dengan hal yang banyak kegiatan.

Tentang jiwa kepemimpinan yang ada di dalam diri saya, saya menilai ketika dihadapkan dengan suatu masalah, saya berusaha untuk berfikir tenang, dan lebih sabar dalam mengerjakan sesuatu, karena prinsip dalam diri saya, adalah santai namun tetap terlaksana dengan baik, dengan tidak terlalu menekankan hal yang sulit untuk dicapai. Banyak pendapat yang mengatakan saya adalah sosok orang selalu memikirkan suatu hal, tetatpi dalam diri saya, saya merasa pikiran itu tidak terlalu dalam, namun banyak yang menilai seperti itu. Untuk mengajak teman dalam menjalankan suatu hal kebaikan ataupun mengajak teman untuk melaksanakan tujuan dalam suatu kelompok atau organisasi terkadang sifat kesbaran dan ketenangan saya diandalkan oleh teman-teman saya. Mungkin analisis dari diri saya sebagai pengantar impian ketika aku menjadi seorang pemimpin.

Kepemimpinan adalah sifat yang tanpa disadari sudah dimiliki manusia disaat dia sudah harus dapat mengatur bagaimana cara dia melangkah kesuatu arah. Seperti halnya ketika kita sudah memasuki masa kanak-kanak, dimana kita sering meminta segala hal yang kita inginkan untuk kita miliki, hal yang kita tidak tahu, kita tanyakan pada orang tua kita, dan masih banyak lagi. Dengan adanya hal itu kita telah terlatih untuk berani berbicara, mengeluarkan keinginan kita kepada orang tua, namun tidak semua apa yang kita inginkan diizinkan oleh orang tua kita, karena mereka tahu mana yang lebih tepat dan lebih baik untuk anaknya. Jiwa kepemimpinna tidak hanya ada pada seorang yang memiliki jabatan sebagai ketua, sebagai direktur bahkan seorang presiden. Namun itu semua hanya sebuah casing atau dapat dikatakan sebuah nama jabatan yang menjadi julukan mereka untuk mengemaban amanah dalam lingkup suatu organisasi atau lembaga. Kepemimpinan seutuhnya dimiliki oleh semua orang, karena setiap perjalanan kehidupan seseorang tidak sama, disitu akan terlihat bagaimana seseorang dapat mengatur dan menjalanakan dengan baik alur cerita kehidupan yang pastinya setiap alur kehidupan seseorang menginginkan tujuannya tecapai. Karena kita hidup didunia ini pasti hanya untuk mengabdi kepada sang Khaliq, yang telah memberikan segala kebutuhan kita didunia, kini tinggal manusia mau tidak berusaha untuk menjadi mahkluk yang lebih baik dan tercapai tujuan hidupnya.

Banyak kegiatan yang menunjukkan tentang kepemimpinan dari diri sendiri, seperti contohnya. Saya sebagai mahasiswa, yang notabennya saya disini menjadi seorang pelajar yang mencari ilmu, namun yang saya tangkap mencari ilmu bukan hanya ketika kita duduk di atas kursi dan menderngarkan guru atau dosen kita menjelaskan suatu materi. Banyak pembelajaran yang saya anggap itu semua adalah pelajaran yang penting. Dari kutipan contoh tersebut, dapat dikatakan ketika kita dapat mengontrol diri kita dan menjalankan dari rangkaian kegiatan kita sebagaimana mestinya, maka yang mengatur itu semua, ketika dapat berjalan dengan baik itu adalah jiwa kepemimpinan yang ada pada diri kita. Tanpa kita sadari ketika kita akan melangkah menuju tujuan atau arah yang kita inginkan, kita sudah menjalankan sifat kepemimpinan kita pada diri kita sendiri. Mungkin dari masa Taman Kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) saat ini, pastilah banyak pembelajaran yang selalu menjadikan kita belajar untuk saling berkelompok dan bekerjasama untuk menyelesaikan suatu tugas atau tujuan. Tanpa kita sadari kegiatan pembelajaran secara berkelompok akan melatih jiwa kepemimpinan kita menjadi lebih baik, karena disitu kita dituntut untuk mengerjakan tugas secara berkelompok secara bersama bukan hanya sebuah nama kelompok, namun kita harus mengangkat rasa tanggungjawab bersama, saling percaya dan bekerjasama dengan baik. Dengan kegiatan seperti itu kita juga telah memanfaatkan kepemimpinan yang kita miliki, dengan kita berbicara dengan teman saling bertukar penedapat, dan masih banyak lagi yang menunjukkan kita sejatinya memiliki jiwa kepemimpinan.

Kepemimpinan yang dimiliki oleh setiap manusia tidak sama, maka dari itu ketika kita hidup berkelompok, hidup lebih dari satu teman, ketika terjadi perbedaan itu adalah hal yang wajar, karena kesamaan itu tidak selalu membawa kebaikan, mungkin melalui perbedaan yang tecipta kita akan menemukan hal yang lebih baik. Allah SWT saja menciptakan manusia tidak ada bagian yang sama, bahkan ketika orang itu memiliki gen kembar, selalu ada perbedaan yang ada pada mereka. Apalagi ketika mahkluk yang jelas-jelas berbeda ibu dan ayah, pasti akan dijumpai suatu perbedaan. Melalui perbedaan yang timbul jiwa kepemimpinan yang kita miliki akan semakin terbentuk dengan baik. Karena kita dapat memahami perbedaan itu agar tujuan yang akan dituju dapat tecapai. Yang dari titik awal saja, kita dilahirkan dari 2 manusia yang berbeda, dari keturunan adam dan hawa, jadi tidak mungkin suatu hal terlahir dengan zat sama, kecuali itu kehendak dari Allah SWT.

Dalam lingkungan hidup ini, kita berada di dalam 3 lingkungan yang pasti semua manusia pernah merasakan, yang pertama lingkungan keluarga, kedua lingkungan masyarakat dan ketiga lingkungan sekolah. Di dalam lingkungan keluarga kita akan menjadi sosok yang benar-benar menjadi pribadi yang utama, walaupun terkadang tidak selalu sama karena ada pengaruh lain seperti halnya dari lingkungan masyarakat yang mungkin membawa dampak negatif, atau malah sebaliknya. Dan kita juga hidup dilingkungan sekolah yang termasuk suatu organisasi yang banyak mengajarkan kepemimpinan yang bekerja sama dengan sekelompok orang untuk menjalankan program-program yang ingin dicapai, seperti organisasi Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan ekstrakurikuler yang kita ikuti dalam lingkup sekolah tersebut. Ketika saya sebagai siswa yang mengikuti organisasi tersebut, pasti saya akan banyak belajar banyak tentang kepemimpinan yang sesungguhnya dalam suatu organisasi, namun ketika saya menjadi siswa yang hanya aktif dalam dunia akademis, menurut saya bukan berarti saya tidak bisa mengembangkan dan belajar tentang kepemimpinan, karena kita tidak bisa memandang keahlian orang lain itu sama, kita harus bisa memandang dari banyak segi dari banyak hal tentang kemampuan yang dimiliki orang lain, dan kita berusaha dapat menerima dan menyesuaikan sikap kita terhadap mereka. Seperti halnya ketika saya diberi amanah untuk menjadi ketua kelompok belajar olimpiade mata pelajaran yang akan dilombakan, disitu saya akan terlatih menjadi seorang pemimpin yang harus bisa mengayomi dan mengarahkan dari teman-teman kelompok belajar saya, maka akan saya buat sebaik mungkin sebagaimana amanah yang telah diberikan oleh guru saya.

Ketika saya diamanahi untuk menjadi pemimpin dalam suatu kelompok atau suatu organisasi di lingkungan sekolah, maka saya akan berusahan menjalankan program kerja yang telah dibuat diawal tahun periode, agar teman-teman kepengurusan tahun saya, dapat bekerjasama dan saling mensuport untuk mencapai tujuan yang telah dibuat. Ketika saya menjadi seorang pemimpin, pasti baik dan jelek dari kepemimpinan saya akan terus dilihat dan dipantau oleh seluruh teman-teman sekolah hingga dewan guru. Karena tanggungjawab sebagai pemimpin itu sangat besar, ketika saya kurang bisa menjalankan program kerja yang telah dibuat, maka pasti sistem kepengurusan periode saya bisa dikatakan tidak saling bekerjasama dengan baik, karena menurut saya kepemimpinan itu dapat dikatakan berhasil dengan alasan, teman-teman anggota dari organsiasi atau kelompok yang saya pegang, dapat bekerjasama dengan baik, dan tujuan yang akan dituju dapat tercapai sesuai dengan harapan yang diharapkan. Bukan hanya image pemimpin itu saya sandang sendiri, namun itu hanya sebuah casing atau sebuah lapisan luar, sebuah nama jabatan tambahan secara struktural, tapi yang lebih trepenting saya dapat bekerjasama dengan baik dengan teman-teman anggota organisasi atau kelompok saya, hingga tujuan yang sudah direncanakan dapat tercapai.

Dengan dijadikannya seseorang itu sebagai pemimpin, maka pasti sudah ada kepercayaan yang terbanyak dan terbaik dari para pemilih, maka dari itu saya harus bisa menjaga kepercayaan yang mereka berikan. Dari diri saya sendiri ketika saya menyandang jabatan itu, maka saya akan selalu mengoreksi diri saya sendiri dulu ketika saya akan mengajak atau memberikan arahan dan bimbingan kepada anggota saya, karena segala sesuatu itu pasti akan kembali lagi kepada diri kita sendiri, bukan berarti saya memiliki kewenangan kepada teman-teman anggota saya untuk seenaknya memerintah dan membuat permainan agar saya tidak bekerja, namun saya akan berusahan mengajak semua bidang untuk dapat mewujudkan, melaksanakan dari planning yang telah dibuat, ketika kita sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik, dengan usaha dan doa pasti Allah SWT, akan memberikan yang terbaik sesuai dengan usaha dan doa kita. Karena menurut saya ketika sudah bersikeras untuk mewujudkan tujuan yang akan dicapai, namun doa yang diucapkan kurang, itu tidak berhasil. Walaupun mungkin dalam segi teknik bisa dikatakan sukses, namun secara naluri secara instrinsiknya belum berhasil. Maka dari itu saya akan mengajak teman-teman anggota organsiasi dan kelompok saya untuk memiliki ciri khas, berusaha dan berdoa dengan utamanya tak lepas dari shalawat kepada baginda Rasullah SAW.

Setelah saya tuliskan tentang kepemimpinan dalam suatu organisasi atau kelompok di sekolah, sebenarnya ada titik point yang utama dalam hidup yaitu ketika kita sudah berumah tangga, namun karena disini saya seorang wanita mungkin tidak terlalu spesifik tentang kewajiban yang paling besar yang dipegang oleh seorang laik-laki. Karena dalam lingkup rumah tangga, kita sebagai wanita memiliki seorang imam, seorang pemimpin keluarga, disitu seorang lelaki memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Dari sini bisa saya sampaikan bahwa kepemimpinan sesungguhnya lingkupnya luas, bukan hanya atas nama jabatan yang disebut sebagai pemimpin. Ketika saya menjadi seorang pemimpin, baik memimpin diri sendiri, memimpin orang lain, hingga mengarahkan anak-anak saya kelak, insyaAllah selalu saya dasari dengan selalu instropeksi diri terlebih dahulu sebelum mengarahkan atau memberi saran, didasari rasa kasih sayang, saling menghargai dan saling menghormati, dan tak lupa selalu berusaha dan berdoa untuk tujuan yang akan saya dan teman-teman yang akan dicapai.

Lingkup kepemimpinan selanjutnya yaitu pada ranah sebuah organisasi besar atau lembaga, khususnya lembaga pendidikan. Karena disini saya mengambil jurusan Manajemen Pendidikan Islam, yang lingkup pada jurusan saya ini menyangkut tentang  suatu sistem lembaga, dapat terorganisir dengan baik, bagaimana seorang pemimpin menjalankan amanahnya sebagai mestinya, dan masih banyak lagi tentang dunia pendidikan. Disini saya memiliki impian ingin mengembangkan suatu sistem pendidikan di suatu organisasi atau suatu lembaga dengan basis yang sederhana namun bisa membuat karakter anak bangsa ini lebih baik, walau mungkin kalimat ini cukup berat. Karena image pendidikan yang selalu diatur oleh peraturan pemerintah yang hampir setiap pergantian pemimpin, maka kebijakannyapun akan ikut berganti. Menurut saya ketika suatu lembaga atau organisasi memiliki sistem yang telah dibangun, ketika berganti masa kepemimpinannnya maka sistemnya tidak perlu ikut berganti pula, namun bagaimana sistem itu tetap namun terus berkembang dengan menyesuaikan zamannya. Dengan begitu sistem yang diterapkan akan tetap berlanjut namun dengan sistem yang lebih baik.

            Jika aku menjadi pemimpin…..!!!!!!! satu kalimat ini bisa membuat seseorang untuk berfikir kedepan, mengambil langkah untuk mencapai suatu tujuan yang akan dicapai. Gambaran suatu saat bisa tercapai ketika kita memiliki mimpi dan mau berusaha dan berdoa untuk mewujudkannya. Ada sebuah pepatah mengatakan, mempertahankan lebih susah daripada menciptakan, dari kalimat ini saya mengambil makna instrinsik yang tersimpan, bahwa ketika kita membangun atau menciptakan suatu hal, itu pasti kita akan menemukan jalan untuk membuat hal itu lahir, namun ketika sudah ada dan telah berjalan pasti kita akan dihadang oleh banyak rintangan, masalah, jatuh bangun untuk mempertahankannya.

            Ketika saya memiliki mimpi untuk memiliki suatu lembaga pendidikan, maka langkah pertama saya yaitu bermusyawarah dengan orang-orang yang menjadi tim saya yang sudah menjadi kepercayaan saya untuk merintis, memulai membangun lembaga tersebut. Melalui musyawarah disitu saya bersama tim saya, akan menyiapkan sebuah perencanaan, dengan adanya rencana awal yang menjadi landasan untuk melaksanakan hal-hal selajutnya. Ketika itu saya akan melibatkan subjek yang menjadi objek ini. Seperti halnya arsitek pembangunan, para pekerja bangunan, dan terutama masyarakat setempat yang menjadi fokus utama, karena ketika seorang pemimpin dapat merangkul semua lapisan yang menjadi tim pengembang tujuannya, maka saya memaknai pemimpin itu adalah sosok yang perlu dipertahakan. Dengan menyusun kepanitian perancangan sebuah lembaga pendidikan tersebut, maka akan ada kordinasi saya bersama teman-teman saya untuk mewujudkan tujuan tersebut. Bukan berarti segala tugas segala bentuk macam kegiatan atau acara saya yang melakukan, namun saya mengajak mengarahkan dari tim saya untuk berkordinasi menjalankan tugas sesuai dengan perencanaan yang telah direncanakan. Tentunya dengan sikap saling menyayangi, menghargai, dan saling mengerti satu sama lain, agar tercipta kerjasama dan kepercayaan antara satu sama lain.

            Ketika perencanaan sudah dibentuk dan mulai dilakukan, pasti dalam pembentukan suatu lembaga pendidikan itu akan menemui masalah, baik dari segi perorangan ataupun masalah finansial, hingga masalah sosial lainnya. Tapi ketika dalam tahap awal ini saya menemui suatu masalah, maka kembali lagi saya kembalikan pada diri saya sendiri, apakah saya dalam mengarahkan teman-teman tim saya sudah sesuai dengan prosedur yang ada, karena ketika saya melakukan kewajiban saya sebagai pemimpin, ketika saya menyampaikan suatu hal terdapat kesalahan bisa jadi itu menjadi titik awal permasalahan yang ditemui, namun ketika kesalahan itu berasal dari teman tim saya, maka akan saya ingatkan dan berusaha saya arahkan agar dapat berjalan sebagaimana mestinya.

            Dalam merencanakan suatu tujuan yang akan saya dan tim saya capai, disini saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat rencana secara baik dan benar, dengan membuat rencana strategis, yang dalam hal ini ada rencana jangka panjang dan rencana jangka pendek, melalui perencanaan yang telah disusun dengan baik, dan dengan melihat situasi dan kondisi saat ini, maka kita akan mendapatkan sebuah impian berupa visi dan misi dari suatu lembaga tersebut, yang didalamnya sudah merangkul visi misi saya sebagai pemimpin di lembaga tersebut. Hanya yang paling saya akan tekankan dalam sebuah lembaga yang saya kembangkan yaitu, manajemen qalbu. Mengapa manajemen qalbu??????? Karena bagi saya ketika kita memiliki suatu tujuan yang itu merupakan suatu mimpi yang akan kita usahakan untuk mencapainya, maka semua itu berawal dari niat dari diri kita sendiri. Karena kini banyak orang ahli dalam bidangnya, namun dalam pelaksanaannya terkadang orang-orang tersebut, tidak menjalankan sesuai dengan niat yang baik, ada permainan didalmnya. Maka menurut saya pandangan seperti itu tidak dapat diteruskan. Karena niatnya sudah tidak bisa menghantarkan kita untuk kesuksesan yang sesungguhnya, yang kesuksesan itu benar-benar kita rasakan hingga dalam batin kita, dan tidak merugikan salah satu objek.

            Langkah selanjutnya, ketika lembaga pendidikan yang saya dirikan sudah berjalan, dan semua aspek sudah terpenuhi, seperti fasilitas bangunan dari lembaga pendidikan, pendidik yang berkualitas, siswa-siswi yang selalu semangat untuk menimba ilmu, dan sudah terprogram kegiatan-kegiatan unggul. Maka saya akan berusaha mengorganisir rencana tersebut agar terlaksana dengan baik dan benar. Dengan selalu mengontrol saling mengingatkan antara bidang satu dengan yang lain, karena ketika saya dipercaya menjadi seorang pemimpin, maka mereka pasti akan bisa berjalan bersama, bekerjasama bersama untuk mewujudkan tujuan yang akan kita capai, karena seorang pemimpin itu tidak akan pernah sukses ketika anggotanya tidak saling mensuport dan tidak saling bekerjasama dengan baik. Percuma seorang pemimpin memiliki rencana yang bagus, namun para anggotanya tidak saling mensuport dan tidak saling bekerjasama, itu semua tidak akan berjalan.

            Ketika perencanaan yang telah kita buat, maka tahap selanjutnya saya bersama tim saya akan merealisasikan, sehingga dapat terwujud dengan baik, dan berdasarkan strategi yang telah kita buat. Saya akan mengajak semua lapisan yang bekerjasama dengan baik, sesuai dengan lingkup tanggung jawab masing-masing, baik itu dari segi administratif ataupun secara teknis. Karena menurut saya seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki keterampilan mendengarkan, membimbing, mengarahkan para anggotanya untuk dapat melaksanakan masing-masing kewajibannya sesuai dengan kemampuannya. Terdapat sebuah hadis yang menganjurkan agar seorang pemimpin musti bertindak sebagai khodim (pelayan):  سيد القوم خادمهم memiliki arti  “ ketua suatu kaum adalam pelayan mereka”. Dari hadist tersebut tanggung jawab dari seorang pemimpin sangat besar, dia harus bisa mengarahkan, membimbing, hingga melayani para anggotanya untuk dapat bekerjasama agar tujuan yang sudah direncanakan dapat terlaksana dengan baik.

            Keterampilan mendengarkan itu lebih sulit bagi saya, daripada berbicara, karena ketika kita memiliki gagasan ataupun keluhan, pasti kita akan mengemukakan dihadapan anggota kita untuk dapat melaksanakan bersama-sama, namun ketika kita menjadi pendengar keluh kesah, berbagaia masalah, hingga pendapat yang keluar dari para anggota itu, belum tentu kita dapat menjadi pendengar yang baik, maka dari itu ketika saya bersama dengan anggota saya, maka saya akan berusaha memberikan arahan yang terbaik, mau mendengarkan keluh kesah dari pekerjaan mereka, untuk saling mengingatkan agar menjadi yang lebih baik, tidak berpedoman pada ego diri kita sendiri, namun dapat merangkul semua anggota kita. Dalam pengaplikasian rencana yang telah disusun maka pelaksanaannya saya pasti akan butuh kerjasama dan dukungan dari para anggota saya.

            Ketika berjalan bersama para tim saya disuatu lembaga pendidikan, pasti akan banyak menemui suatu masalah atau kekurangan yang ingin kita sempurnakan, maka saya akan berusaha selalu melakukan penilaian/evaluasi secara teknis ataupun secara pribadi sesuai dengan kebutuhan para anggota saya, karena ketika saya berbicara dengan para lapisan anggota saya yang bekerja di salam ruangan dengan para anggota yang bekerja ke lapangan, itu pasti mereka akan memiliki perspektif yang berbeda, yang tidak bisa dilihat hanya pada satu sisi, maka dari itu saya akan berusaha selalu memberikan evaluasi berdasarkan pekerjaan yang telah dilaksanakan, berdasarkan lingkupnya. Mungkin untuk mengatur ego pada diri kita susah, tapi insyaAllah ketika saya diberi amanah untuk menjadi seorang pemimpin, saya akan melihat dari beberapa aspek yang dibutuhkan dan kekurang dari suatu pekerjaan yang telah kami laksanakan.

            Ketika sebuah lembaga atau sebuah organisasi yang kita telah dirikan berjalan dengan baik, maka kita harus tetap memperhatikan stakeholder (sasaran)  yang kita tuju, karena tujuan dari suatu lembaga pendidikan mendapatakan kepercayaan dari masyarakat untuk menjadikan tempat sekolah yang banyak digemari, dan dipercaya para masyarakat untuk anak-anaknya, kita harus memiliki banyak pandangan ketika berhadapan dengan banyaknya wali murid, yang pada dasarnya latar belakang kehidupan mereka berbeda, namun kita dapat menyamakan dengan kebijakan dan tujuan yang akan kita capai.dengan tidak meninggalkan salah satu dari banyaknya lapisan masyarakat yang telah mempercayai kepercayaannya untuk mensekolahkan anaknya di lembaga kita. Ketika eksternal yang sudah kita pedulikan, sehingga tujuan yang akan kita capai dapat terlaksana dengan baik, maka internal dari suatu lembaga atau suatu kelompok bersama, jangan sampai lupa begitu saja, karena tanpa tim kerja yang baik dan solid, objek eksternal yang akan kita tuju tidak bisa terangkul semua dengan baik.

            Prinsip pada diri saya yang utama adalah, saling menghargai dan saling mengerti dengan ikhlas, tidak bisa dipungkiri kita hanya seorang manusia biasa, yang terdapat nafsu yang mungkin itu semua tidak bisa kita kontrol ketika diri kita dalam keadaan yang kurang tenang, hingga kita tidak bisa membedakan mana yang lebih utama, mana yang dinamakan kebutuhan atau keinginan, kedua kata ini terkadang memiliki makna yang berbeda tipis, sesuai dengan keadaan emosi kita saat itu, maka dari itu saya mengatakan seorang pemimpin membutuhkan suatu keterampilan dalam mengontrol emosi ketika berhadapan dengan anggotanya, karena dia memiliki amanah untuk mengajak membimbing agar para anggotanya dapat bekerjasama dengan baik, dan pemimpin lebih mudah dalam mengontrolnya, karena sudah ada kerjasama yang baik dan kepercayaan antara satu sama lain.

            Kita manusia sesungguhnya diciptakan dibumi ini untuk menjadi khalifah, yang selalu beribadah kepada sang pencipta, maka dari itu manajemen qalbu yang perlu kita kembangkan, agar ketika kita menjalankan suatu pekerjaan kita dapat melaksanakan dengan baik dan disertai niat dan hati yang ikhlas, hingga terwujud tujuan yang akan dicapai. Karena kini banyak orang-orang yang telah diberikan kepercayaan namun mereka malah menyelewengkan kepercayaan yang telah diberikan. Terkadang orang-orang tersebut merupakan orang-orang yang berilmu, namun terkadang kurang bisa mengontrol nafsu atau egonya, sehingga dia teperangkap dalam suatu hal yang tidak diinginkan, atau kurangnya kepiawannya dalam administratif hingga terjebak dalam permainan nakal yang dikalukan.

            Selalu mengontrol, dan memperhatikan anggota kita dalam suatu kelompok tanpa membedakan sisi-sisi antara satu sam lain, itu semua dapat membuat para anggota kita bekerja dengan semaksimal mungkin, dengan memberikan reward (penghargaan) ataupun memberikan peringatan ketika melakukan suatu pekerjaan yang lebih baik, atau malakukan hal yang kurang tepat. Dengan memberikan arahan yang baik, dan saling mengharagai antara satu sama lain, maka lembaga pendidikan atau kelompok yang kita pegang akan menjadi suatu organisasi atau lembaga pendidikan yang banyak diminati banyak masyarakat.

            Kepemimpinan yang paling sempurna hanyalah milik Allah SWT, karena kita manusia hanya bertugas untuk berusaha dan berdoa untuk tujuan yang akan kita capai, dengan tidak memaksa kepada anggota ataupun masyarakat dengan kebijakan yang telah kita buat, namun kita bisa memberikan bukti dengan contoh, atau arahan yang membuat mereka dapat menerimanya. Karena pendapat atau kebijakan yang kita buat tidak selalu memiliki makan yang benar, namun saya akan terus mengajak anggota saya, ataupun dengan perwakilan dengan kebijakan yang saya ungkapkan. Agar antara pemimpin dan anggota tidak terjadi mis komunikasi, sehingga terjadi kesalahpahaman yang akan membuat suatu kelompok pecah. Maka dari itu sikap saling mengerti dan menghargai itu sangat penting dalam suatu kelompok orang banyak.

            Disini saya akan berbicara tentang kepemimpnan dari seorang wanita, karena saya sendiri seorang wnaita yang hakikatnya memang harus memiliki jiwa kepemimpinan namun tidak untuk melebihi dari kewajiban seorang laki-laki, karena apa? Seorang wanitalah yang akan membimbinng menjadikan mencetak bakal calon pemimpin-pemimpin yang sesungguhnya, maka dari itu tanpa kita sadari sebagai seorang wanita, kita adalah orang pertama yang akan meberikan pendidikan yang luar biasa kepada para calon pemimpin bangsa, namun disini bukan berarti wanita tidak boleh berkarir tidak boleh mengembangkan kompetensi yang dimiliki, namun kita dapat mengembangkannya dengan cara kita sendiri-sendiri. Karena tanpa seorang ibu maka pemimpin bangsa ini tidak akan terlahir dengan pengetahuan pendidikan yang luar biasa. Namun peran ayah juga sangat berpengaruh, karena kalau hanya seorang ibu kita juga tidak akan terlahir didunia. Maka dari itu menurut saya segala hal itu dapat kita pandang dari berbagai sisi dengan memperhatikan aspek yang dibutuhkan.

            Kini banyak anak bangsa yang akhlaknya kurang baik kepada seorang yang lebih tua darinya, bahkan kepada guru orang tua kini banyak anak bangsa yang tidak selayaknya mereka melakukan hal seperti itu, namun kita tidak bisa menyalahkan langsung kepada anaknya, orang tuanya ataupun gurunya. Namun kita harus bisa memandang banyak hal, karena anak hidup ditiga lingkungan yang telah saya tuliskan di pembukaan artikel ini. Dari lingkungan keluarga berusaha memberikan arahan yang baik, tanpa memberikan tekanan ataupun pendidikan yang malah menbuat seorang anak itu menjadi seorang anak yang tidak baik. Maka disini kepemimpinan sebagai seorang ibulah yang akan menjadikan dasar berkembangnya anak calon pemimpin bangsa kelak. Mungkin apabila seluruh anak bangsa yang dari kecilnya memiliki akhlak yang seperti apa yang kita harapkan, maka akan nyaman damai dan sejahtera Negara ini. Bukan berarti anak kita kekang dengan berbagai peraturan yang kita buat, namun dia juga memiliki tahap masa berkembang. Nah disini, bagaimana kita dapat mengarahkannya agar tetap dalam lingkup yang kita harapkan, namun sesuai dengan masa perkembangannya. Harapan paling besar dari saya pribadi yaitu, bisa menjadikan anak bangsa ini menjadi sosok yang akan menjadi pemimpin yang baik dijalan Allah.

            Banyak gaya kepemimpinan yang dimiliki para pemimpin besar kita, baik itu pemimpin Negara, tokoh agama, para kiyai, hingga para pahlawan dan para ulama’ yang telah tiada, namun kita dapat mencontoh bagaimana kepemimpinan yang mereka lakukan kepada rakyaktnya kepada anggotanya, hingga para rakyatnya para anggotanya merasa aman, damai dan sejahterra. Karena tidak ada kenikmatan yang lebih indah dari sebuah kesehatan dan kedamaian yang ada disuatu lingkungan, karena kita manusia diciptakan dengan berbeda-beda, berbeda ras, berbeda suku, berbeda segalanya, ketika kita saling sama-sama untuk selalu menjalankan ibadah hanya kepada Allah SWT, maka kehidupan ini akan lebih nyaman, indah dan harmonis. Dengan saling menghargai dan saling mengerti antara satu sama lain, menurut saya itu sudah menjadi titik poin kepemimpinan yang sempurna. Karena ketika kita bisa menghargai dan menerima perbedaan disuatu lingkungan itu sama saja kita sudah dapat menjalankan keterampilan seorang pemimpin bersama angotanya, yang mungkin perbedaanya kita tidak menyandang jabatan sebagai pemimpin, namun tanpa disadari kita telah menerapkan kepemimpinan yang dimiliki para pemimpin besar tersebut.

            Namun, ketika kita belum bisa mengontrol ego kita mengontrol nafsu kita, itu semua bukan berarti kita tidak dapat menghargai dan menerima perbedaan dari orang lain, namun disitu kita dibimbing untuk belajar dan terus belajar agar kita dapat melaksanakan keterampilan pemimpin tersebut. Jadi bukan hanya orang-orang yang menyandang sebagai kepala atau pimpinan dalam suatu organisasi. Namun terus kembangkan keterampilan yang perlu dimiliki pemimpin, selalu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari itu sudah mencakup nilai kepemimpinan yang baik.

            Ketika saya diberi kepercayaan untuk menjadi seorang pemimpin, saya memaknai itu semua sebuah tanggung jawab besar yang harus saya emban, dan saya laksanakan dengan baik. Dengan diniatkan untuk belajar untuk selalu memperbaiki diri baik dari perbuatan, perkataan, hingga sikap diam saya. Karena seorang pemimpin itu memiliki makna yang harus menjadi suri tauladan bagi anggotanya, gerak gerik yang kita lakukan pasti selalu dipandang oleh anggota kita, maka dari itu bukan memanipulasi perbuatan atau mengucapkan janji-janji kosong, namun saya harus benar-benar menjalankan kepemimpinan kita dengan menjadi diri saya sendiri. Tidak untuk berbohong atau mengada-ngada dari suatu tujuan yang akan saya laksanakan, namun bagaimana cara saya untuk mengajak anggota saya untuk dapat bekerjasama dengan baik dan saling mensuport. Karena anggota dalam suatu tim atau suatu kelompok adalah aset terepenting yang dimiliki suatu lembaga atau suatu organsiasi. Tanpa adanya anggota dalam suatu lembaga atau organisasi, pemimpin tidak bisa dikatakan pemimpin. Dia hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, yaitu menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Berbeda lagi dengan ketika seorang pemimpin yang memiliki anggota untuk mencapai suatu tujuan.

            Kesuksesan yang kita dapatkan hingga saat ini, tentu tak lepas dari ridho dan doa orang tua kita, karena mereka adalah pemimpin utama yang membuat seorang anak itu dapat terbentuk menjadi pemimpin yang bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya. Banyak teori lahirnya kepemimpinan dari seorang anak, bisa saja jiwa kepemimpinan itu berasal dari keturunan, bisa jadi dari jiwanya sendiri hingga lingkungan sekitar. Dengan begitu kepemimpinan yang dimiliki oleh seseorang itu tidak sama, mereka memiliki model kepemimpinan yang berbeda-beda, seperti misalnya kepemimpinan dari presiden satu ke presiden selanjutnya pasti berbeda, ketika terjadi perbedaan, antara kepemimpinan satu dengan selanjutnya, itu suatu yang biasa, namun bagaimana sistem yang telah dibangun itu tidak berubah namun dapat berkembang.

            Disisi lain, ketika kita memiliki teman yang sudah dasarnya memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, yang bisa membuat kita dan teman-teman kita belum bisa mengembangkan jiwa kepemimpinan baik untuk diri kita sendiri ataupun untuk orang lain, kita dekati dia, dan ajak teman-teman yang belum bisa mengembangkannya. Karena salah satu keterampilan yang perlu dimiliki seorang pemimpin juga adalah dapat berbicara, dapat menyampaikan suatu hal baik pendapat arahan hingga kekurangan kepada orang lain, selain keterampilan mendengarkan, membimbing, dan mengarahakan anggota kita agar terwujud tujuan kita. Dengan kita melibatkan orang-orang sukses pasti kita akan ikut ke lingkugan mereka, seperti halnya ketika kita berteman dengan pedagang minyak wanggi, pasti kita akan terkena wangi dari minyak wangi iut. Maka dari itu jangan kita merasa minder atau malah takut untuk berkumpul bersama orang-orang yang dapat menginspirasi kita untuk maju lebih baik. Karena tidak ada suatu hal yang mustahil ketika kita mau berusaha dan berdoa untuk mimpi yang kita miliki. Tentunya tak lupa untuk selalu meminta restu dan doa orang tua untuk mewujudkan mimpi tersebut, agar ketika terwujud maka keberkahan dari orang tuapun pasti akan terwujud pula. Setinggi-tingginya ilmu seorang menurut saya, ketika dia tidak menghormati tidak pernah meminta restu dari orang tua, maka kesuksesan itu tidak barokah. Karena kunci sukses seseorang itu terletak pada orang tua. Mereka adalah pemimpin terhebat yang telah melahirkan kita hingga kita dapat menjadi anak yang semoga dapat bermanfaat bagi orang-orang yang ada disekitar kita.

            Sekian artikel dari saya, semoga dapat memberikan manfaat kepada saya dan pembaca, mari kita tingkatkan keterampilan mengharagai dan mengerti dengan ikhlas seseorang, tanpa mementingkan ego dan nafsu dari diri kita, untuk kedamaian dan kenyamanan yang harmonis. J
 

Popular posts from this blog

Impian-2

Manajemen Keuangan Generasi Milenial

Proses Terbaik untukmu