PRINSIP DAN EVALUASI TEST
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Isu
aktual yang berkembang dalam pendidikan saat ini adalah rendahnya mutu
pendidikan Indonesia yang telah banyak disadari oleh berbagai pihak, terutama
oleh para pemerhati pendidikan di Indonesia. Rendahnya mutu pendidikan ini
dapat dilihat, antara lain rendahnya rata-rata nilai Ujian Akhir Nasional (UAN)
untuk semua bidang study yang di-UAN-kan, baik tingkat nasional maupun daerah.
Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia juga diakui oleh wakil presiden
Yusuf Kalla dalam jumpa pers di kantornya tanggal 1 Juli 2005.[1]
Melalui evaluasi yang dilakukan dari pihak sekolah ataupun pemerrintah
diharapkan siswa dapat memperbaiki proses pembelajaran yang kurang dan dapat
ditingkatkan. Melalui evaluasi yang ada guru dapat memberi pembelajaran yang
lebih sehingga dapat memperbaiki kekuarangan siswa dalam pembelajarannya.
Tes
merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengumpulkan data dalam melakukan
penilaian, penilaian membutuhkan yang namanya data untuk menghasilkan penilaian
yang objektif. Tes membutuhkan alat dalam pelaksanaannya, apabila dalam
pelaksanaan test tidak ada alat yang digunakan, kemungkinan kemajuan-kemajuan
dalam segala bidang akan terlambat dan tidak mempunyai sasaran yang tepat.
Dengan
adanya tes disegala bidang, maka akan terkontrol dan dapat dievaluasi dengan
baik, karena melalui test kita dapat mengetahui seberapa pencapaian yang
didapatkan objek, terutama dalam bidang pendidikan, disni siswa sebagai objek
dapat dilihat sudah sampai amnakah siswa dapat mencapai tujuan-tujuan yang akan
dicapai. Maka ketika tes itu dilaksanakan harus dapat memaksimalkan alat yang
digunakan dan sesuai dengan tujuan dan objek yang akan dituju.
2.
Rumusan
Masalah
A. Bagaimana
prinsip evaluasi dalam pembelajaran ?
B. Apa
sajakah alat evaluasi dalam pembelajaran ?
C. Apakah
penegrtian dari Test dalam pembelajaran ?
D. Apa
sajakah persyaratan test dalam pembelajaran ?
E. Bagaimana
ciri-ciri test yang baik ?
3. Tujuan
A. Mengetahui
prinsip evaluasi dalam pembelajaran.
B.
Mengetahui alat
evaluasi dalam pembelajaran.
C.
Mengetahui penegrtian
dari Test dalam pembelajaran.
D. Mengetahui
persyaratan test dalam pembelajaran.
E.
Mengetahui
ciri-ciri test yang baik.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Prinsip Evaluasi
Ada satu prinsip umum dan penting
dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga
komponen, yaitu:
a.
Tujuan
pembelajaran,
b.
Kegiatan
pembelajaran atau KBM,dan
c.
Evaluasi.[2]
Triangulasi tersebut dapat digambarkan dalam
bagan sebagai berikut.
Tujuan
KBM Evaluasi
Penjelasan dari bagan triangulasi adalah
demikian.
a.
Hubunga
antara Tujuan dengan KBM
Kegiatan belajar-mengajar yang
dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan
yang hendak dicapai. Dengan demikian, anak panah yang menunjukkan hubungan
antara keduanya mengarah pada tujuan dengan makna bahwa KBM mengacu pada
tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM, menunjukkan langkah dari
tujuan dilanjutkan pemikirannya di KBM.
b.
Hubungan
antara Tujuan dengan Evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan
data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai. Dengan makna demikian
maka anak panah berasal dari Evaluasi menuju ke Tujuan. Dan juga dalam menyusun
alat evaluasi ia mengacu pada tujuan yang sudah dirumuskan.
c.
Hubungan
antara KBM dengan Evaluasi
Evaluasi
juga harus mengacu atau disesuaikan dengan KBM yag dilaksanakan. Misalnya, juka
kegiatan belajar mengajar dilakukan oleh guru dengan menitikberatkan pada keterampilan,
evaluasi juga harus mengukur tingkat keterampilan siswa, bukannya mengukur dari
aspek pengetahuanya.
2. Alat Evaluasi
Dalam pengertian umum, alat
adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang dalam
melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan efisien.Kata
“alat” bisa disebut juga dengan istilah “instrument”.Dengan demikian, alat
evaluasi juga dikenal dengan instrument evaluasi.
Dengan pengertian tersebut, alat evaluasi dikatakan baik
apabila mampu mengevaluasi sesuatu dengan hasil seperti keadaan yang
dievaluasi.Dalam menggunakan alat tersebut evaluator menggunakan cara atau
teknik, maka dikenal dengan teknik evaluasi. Seperti disebutkan diatas, ada dua
teknik evaluasi, yaitu teknik non tes dan teknik tes.
A. Teknik
Nontes
Dalam
teknik non tes ada beberapa macam yang tergolong teknik non tes adalah sebagai
berikut:
1. Skala
bertingkat (rating scale)
Skala
menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap sesuatu hasil
pertimbangan.Biasanya angka-angka yang digunakan diterapkan pada skala dengan
jarak yang sama. Meletakkannya secara bertingkat dari yang rendah ke yang
tinggi.Dengan demikian, skala ini dinamakan skala bertingkat.Kita dapat menilai
hampir segala sesuatu dengan skala.Dengan maksud agar pencatatannya dapat
objektif, maka penilaian terhadap penampilan atau penggambaran kepribadian
seseorang disajikan dan disampaikan dalam bentuk skala yang telah tersusun.
2. Kuesioner
(questionair)
Kuesioner
juga sering dikenal sebagai angket.Pada dasarnya, kuesioner adalah sebuah
daftar pertanyaan yang harus di isi oleh orang yang akan diukur (responden).
Dengan kuesioner ini orang dapat diketahui tentang keadaan/data diri,
pengalaman, pengetahuan sikap atau pendapatnya, dan lain-lain.
Tentang macam
kuesioner, dapat ditinjau dari beberapa segi.
a. Ditinjau
dari segi siapa yang menjawab, maka ada:
(1) Kuesioner
langsung, adalah kuesioner yang dikirimkan dan di isi langsung oleh responden.
(2) Kuesioner
tidak langsung, adalah kuesioner yang dikirimkan dan di isi oleh bukan oleh responden.
Kuesioner tidak langsung biasanya digunakan untuk mencari informasi tentang
bawahan, anak, saudara, asisten, tetangga, dan orang- orang sekiatrnya sebagainya.
b. Ditinjau
dari segi cara menjawab, maka ada:
(1) Kuesioner
tertutup, adalah kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban
lengkap sehingga responden hanya tinggal member tanda pada jawaban yang
dipilih.
(2) Kuesioner
terbuka, adalah kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga responden bebas
mengemukakan pendapatnya. Kuesioner
terbuka disusun apabila jenis jawaban akan beragam. Misalnya, keterangan alamat
responden, tidak mungkin diberikan secara memilih pilihan jawaban yang
disediakan. Kuesioner terbuka juga digunakan untuk menerima pendapat.
3. Daftar
cocok (check list)
Yang
dimaksud dengan daftar cocok adalah deretan pernyataan (yang biasanya
singkat-singkat), dimana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda
cocok (
) di tempat yang sudah disediakan.
4. Wawancara
(interview)
Wawancara
atau interview adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan
jawaban dari responden dengan cara Tanya jawab sepihak. Dikatakan sepihak
karena dalam wawancara ini responden tidak diberi kesempatan sama sekali unuk
mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang digunakan hanya diajukan oleh subjek
evaluasi.
wawancara dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
wawancara dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a. Wawancara
bebas, dimana responden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya,
tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang telah dibuat oleh subjek evaluasi.
b. Wawancara
terpimpin, yaitu wawancara yang dilakukan oleh subjek evaluasi dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun dan direncanakan terlebih
dahulu agar tersusun baik.
5. Pengamatan
(observation)
Pengamatan
atau oservasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan
pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis.
Ada tiga macam
observasi:
a. Observasi
partisipan, yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat, dalam hal ini
pengamat memasuki dan mengikuti kegiatan kelompok yang diamati.
b. Observasi
sistematik, yaitu observasi dimana faktor-faktor yang diamati sudah didaftar
secara sistematis dan sudah diatur menurut kategorinya. Berbeda dengan
observasi partisipan, observasi sistemik dilakukan dari luar kelompok.
c. Observasi
eksperimental terjadi jika pengamat tidak berparisipasi dalam kelompok. Dalam
hal ini, ia dapat mengendalikan unsur-unsur penting dalam situasi sedemikian
rupa sehingga situasi itu dapat diatur sesuai dengan target yang dirancang
sebagai tujuan evaluasi.
6. Riwayat
hidup
Riwayat
hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama masa kehidupannya.Dengan
mempelajari riwayat hidup, maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu
kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan, dan sikap dari objek yang d inilai .
B. Teknik
Tes
Menurut Webster’s Collegiate ,Tes adalah serentetan
pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur
keterampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh
individu atau kelompok. Apabila pengertian tersebut dikaitkan dengan evalasi
yang diakukan di sekolah, khususnya di suatu kelas, maka tes mempunyai fungsi
ganda, yaitu mengukur siswa dan untuk mengukur keberhasilan program pengajaran.
Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa,
tes dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Tes
diagnostik,
2. Tes
formatif, dan
3. Tessumatif
1. Tes
diagnostic
Tes
diagnostic adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa
sehingga berdasarkan hal tersebut dapat dilakukan penanganan dan penyikapan
terhadap hal tersebut yang tepat.
2. Tes
formatif
Dari
kata form yang merupakan dasar dari
istilah formatif, maka evaluasi formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh
manasiswa telah terbentuk setelah mengikuti suatu program tertentu.Dalam hal
ini, tesformatif dapat juga dipandang sebagai tes diagnostic pada akhir pelajaran.
Evaluasi
formatif atau tes formatif mempunyai manfaat, baik bagi pendidik/ guru, siswa,
maupun rencana- rencana program itu sendiri.
a. Manfaat
bagi siswa
1) Digunakan
untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai materi program secara menyeluruh.
2) Merupakan
penguatan bagi siswa.
3) Usaha
perbaikan.
4) Sebagai
diagnosis.
b. Manfaat
bagi guru
1) Mengetahui
sampai sejauh mana materi yang diajarkan sudah dapat diterima oleh siswa.
2) Mengetahui
bagian-bagian mana dari materi pelajaran yang dikuasai siswa.
3) Dapat
meramalkan sukses dan tidaknya seluruh program yang diberikan.
c. Manfaat
bagi program
Setelah
diadakan tes formatif, maka diperoleh hasil. Dari hasil tersebut dapat
diketahui:
1) Apakah
program yang telah diberikan merupakan program yang tepat dalam arti sesuai
dengan kecakapan anak.
2) Apakah
program tersebut membutuhkan pengetahuan-pengetahuan prasyarat yang belum
diperhitungkan.
3) Apakah
diperlukan alat, sarana, dan prasarana untuk mempertinggi hasil yang dicapai.
4) Apakah
metode, pendekatan, dan alat evaluasi yang digunakan tepat.
3. Tes
sumatif
Evaluasi
sumatif atau tes sumatif dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok
atau sebuah program yang lebih besar.Dalam pengalaman disekolah, tes formatif
dapat disamakan dengan ulangan umum, sedangkan tes sumatif ini dapat disamakan
dengan ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada tiap akhir semester.
Manfaat tes sumatif ada
tiga:
a. Untuk
menentukan nilai.
b. Untuk
menentukan seorang anak dapat atau tidaknya mengikuti kelompok dalam menerima
program berikutnya.
c. Untuk
mengisi catatan kemajuan belajar siswa yang akan berguna bagi:
1) Orang
tua
2) Pihak
bimbingan dan penyuluhan disekolah
3) Pihak-pihak
lain apabila siswa tersebut akan pindah ke sekolah lain, melanjutkan sekolah,
atau memasuki lapangan kerja.
3. Pengertian Test
Istilah tes diambil dari kata testum. Suatu
pengertian dalam bahasa Prancis kuno yang berarti piring untuk menyisihkan
logam-logam mulia. Ada pula yang mengartikan sebagai sebuah piring yang dibuat
dari tanah. Didorong oleh munculnya statistik dalam penganalisisan data dan
infromasi, maka akhirnya tes ini digunakan dalam berbagai bidang seperti tes
kemampuan dasar, tes kelelahan perhatian, tes ingatan, tes minat, tes sikap,
dan sebagainya. Yang terkenal penggunaannya di sekolah hanyalah tes prestasi
belajar.
Sebelum sampai kepada uraian yang lebih jauh, maka
akan diterangkan dahulu arti dari beberapa istilah-istilah yang berhubungan
dengan tes ini.
-
Tes
(Sebelum
adanya Ejaan Yang Disempurnakan dalam bahasa Indonesia titulis dengan test),
adalah merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau
mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah
ditentukan. Untuk mengerjakan tes ini tergantung dari petunjuk yang diberikan,
misalnya: melingkari salah satu huruf didepan pilihan jawaban, menerangkan,
mencoret jawaban yang salah, melakukan tugas atau suruhan, menjawab secara
lisan, dan sebagainya.
-
Testing
Testing
merupakan saat pada waktu tes itu dilaksanakan. Dapat juga dikatakan testing
adalah saat pengambilan tes.
-
Testee
(Dalam
istilah Indonesia tercoba), adalah responden yang sedang mengerjakan tes.
Orang-orang inilah yang akan dinilai atau diukur, baik mengenai kemampan,
minat, bakat, pencapaian, dan sebagainya.
-
Tester
(Dalam
istilah Indonesia: pencoba), adalah orang yang diserahi untuk melaksanakan
pengambilan tes terhadap para responden. Dengan kata lain, tester adalah subjek
evaluasi (tetapi adakalanya hanya orang yang ditunjuk oleh subjek evaluasi
untuk melaksanakan tugasnya). Tugas tester antara lain:
a. Mempersiapkan
ruangan dan perlengkapan yang diperlukan.
b. Membagikan
lembaran tes dan alat-alat lain untuk mengerjakan.
c. Menerangkan
cara mengerjakan tes.
d. Memberikan
tanda-tanda waktu.
e. Mengumpulkan
pekerjaan responden.
f. Mengisi
berita acara atau laporan yang diperlukan(jika ada).[3]
Berdasarkan uraian diatas, penulis mengambil makna dari test adalah:
adalah merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau
mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah
ditentukan.
4. Persyaratan Test
Dalam pembelajaran kita memerlukan sebuah penilaian,
yang dapat mengukur hasil belajar siswa baik itu dalam lembaga pendidikan
formal ataupun non formal, karena melalui penilaian yang dilakukan oleh
pendidik terhadapa siswa, pendidik dapat menjadikan penilaian itu sebagai acuan
untuk memberikan pembelajaran yang lebih baik kepada siswa. Dalam penilaian ini
ada beberapa bentuk yang digunakan pendidik terhadap siswa. Salah satunya ada
penilaian berupa Test. dalam tujuan test yang penting adalah untuk :
(a) Mengetahui
tingkat kemampuan siswa.
(b) Mengukur
pertumbuhan dan perkembangan siswa
(c) Mendiagnosis
kesulitan belajar siswa
(d) Mengetahui
hasil pengajaran
(e) Mengetahui
hasil belajar
(f) Mengetahui
pencapaian kurikulum
(g) Mendorong
siswa belajar
(h) Mendorong
guru agar mengajar yang lebih baik.[4]
Dalam pelaksanaan tes yang
dilaksanakan guna proses pembelajaran sumber persyaratan tes didasarkan atas
dua hal :
Pertama : menyangkut mutu
tes
Kedua : menyangkut
pengadministrasian dalam pelaksanaan.
Walaupun dalam melaksankaan
tes sudah diusahakan mengkuti aturan tentang suasana, cara, dan prosedur yang
telah ditentukan namun tes itu sendiri mengandung kelemahan-kelemahan. Gilbert
Sax menyebutkan beberapa kelemahan sebagai berikut :
1) Adakalanya
tes (secara psikologis terpaksa) menyinggung pribadi seseorang (walaupun tidak
sengaja demikian), misalnya dalam rumusan soal, pelaksanaan, maupun pengumuman
hasil. Dalam kompetensi tersebut suatu kesempatan yang pemilihannya melalui
teks tidak mau tentu ada pihak-pihak yang dikalahkan, dan mereka itu tidak mau
tentu ada pihak-pihak yang dikalahkan, dan mereka itu tentu merasa tersinggung
pribadinya.
2) Tes
mengategorikan siswa secara tepat.
Dengan mengikuti hasil tes pertama kadang-kadang
orang lalu membedakan cap kepada siswa menurut kelompok atau kategorinya,
misalnya A termasuk pandai, sedang, atau kurang. Sangat sukar bagi tester untuk
mengubah predikat tersebut jika memang tidak sangat menyolok hasil dari tes
berikutnya.
3) Tes
tidak mendukung kecemerlangan dan daya kreasi siswa.
Dengan rumusan soal tes yang kompleks kadang-kadang
siswa yang kurang padahal hanya melihat pada kalimat secara sepintas. Cara
seperti ini boleh jadi menguntungkan karena waktu yang disediakan tidak hanya
habis trebuang. Siswa-siswa yang pandai, karena terlalu hati-hati
mempertimbangkan susunan kalimat, dapat terjebak pada suatu butir tes dan
mereka akan kehabisan waktu.
4) Tes
hanya mengukur aspek tingkah laku yang sangat terbatas.
Manusia mempunyai seperangkat sifat (traits) yang
tidal semuanya tepat diukur melalui tes. Tingkah laku sebagai cermin dari
sifat-sifat manusia adakalanya lebih cocok diketahui melalui pengamalan secara
cermat. Beberapa sifat yang lain mungkin perlu diukur dengan berbagai
instrument yang bukan tes.
5. Ciri-Ciri Tes yang Baik
Sebuah tes yang
dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur, harus memenuhi persyaratan tes,
yaitu memiliki :
a. Validitas
b.
Reliabilitas
c.
objektivitas
d.
Praktikabilitas
e.
Ekonomis
Keterangan
dari masing-masing ciri akan diberikan dengan lebih terperinci sebagai berikut.
a. Validitas
Sebelum
mulai dengan penjelasan perlu kiranya dipahami terlebih dahulu perbedaan arti
istilah "validitas" dengan valid". "Validitas merupakan
sebuah kata benda, sedangkan "valid" merupakan kata sifat Dari
pengalaman sehari-hari tidak sedikit siswa atau guru mengatakan: "Tes ini
baik karena sudah validitas jelas kalimat tersebut tidak tepat. Yang benar
adalah: "Tes ini sudah baik karena sudah valid" atau "Tes ini
baik karena memiliki validitas yang tinggi Dalam pembicaraan evaluasi pada
umumnya orang hanya mengenal istilah "valid" untuk alat evaluasi atau
instrumen evaluasi. Hingga saat ini belum banyak buku yang menerapkan istilah
"valid" untuk data. Dalam buku ini dicoba menjelaskan asal pengertian
"valid" untuk instrumen dimulai dari pengertian "valid"
untuk data. sebuah data atau informasi dapat dikatakan valid apabila sesuai
dengan keadaan senyatanya. Sebagai contoh, informasi tentang seorang bernama A
menyebutkan bahwa si A pendek karena tingginya tidak lebih dari 140 sentimeter.
Data tentang A ini dikatakan valid apabila memang sesuai dengan kenyataan,
yakni bahwa tinggi A kurang da 140 Contoh lain, data B yang diperoleh dari
cerita o lain menunjukkan pembohong. Bukti bahwa si B pembohong diperoleh dari
kenyataan bahwa si B sering berbicara tidak benar, tidak sesuai dengan
kenyataan. Dengan demikian maka data tentang B tersebut walid dan cerita orang
tersebut benar lika data yang dihasilkan dari sebuah instrumen valid, maka
dapat dikatakan bahwa instrumen tersebut valid, karena dapat memberikan
gambaran tentang data secara benar sesuai dengan kenyataan atau keadaan
sesungguhnya. Dari sedikit uraian dan contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa
en data yang dihasilkan oleh instrumen benar dan valid. sesuai gan Jika
kenyataan, maka instrumen yang digunakan tersebut juga valid. Sebuah tes
disebut valid apabila tes itu dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur
Istilah valid sangat sukar dicari gantinya. Ada istilah baru yang mulai
diperkenalkan, yaitu sahih sehingga validitas diganti "Valdes menjadi
kesahihan Walaupun istilah tepat belum dapat mencakup semua kata arti yang
tersirat dalam kata valid dan kata 'tepat kadang-kadang digunakan dalam konteks
yang lain, akan tetapi tambahan kata tepat dalam menerangkan kata
"valid" dapat memperjelas apa yang dimaksud.
Contoh:
Untuk mengukur besarnya
partisipasi siswa dalam proses belajar. mengena mengajar, bukan diukur melalui
nilai yang diperoleh pada waktu ulangan, tetapi dilihat melalui:
-
kehadiran
-
terpusatnya perhatian pada pelajaran
-
ketepatan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
oleh guru dalam arti relevan pada permasalahannya.
Nilai yang diperoleh pada waktu ulangan, bukan menggambarkan seoran!
partisipasi, tetapi menggambarkan prestasi belajar Ada beberapa macam
validitas, yaitu validitas logis (logical validity), validitas ramalan
(predictive validity), dan validitas kesejajaran (concurrent validity), Uraian
ang secara terperinci akan dibicarakan pada bab lain.
b. Reliabilitas
Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability dalam
bahasa inggris , berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya
seperti halnya istilah validitas dan valid, kekacauan dalam penggunaan istilah
reliabilitas sering dikacaukan dengan istilah reliabel Reliabilitas"
merupakan kata benda, sedangkanreliabel merupakan kata sifat atau kata keadaan.
Seorang dikatakan dapat dipercaya jika orang tersebut selalu bicara ajeg,tidak
berubah ubah pembicaraannya dari waktu ke waktu.
Contoh :
TABEL NILAI TES PERTAMA DAN TES KEDUA
Nama siswa
|
waktu tes
|
|
Pengetesan pertama
|
Pengetesan kedua
|
|
Amin
|
6
|
7
|
Badu
|
5,5
|
6,6
|
Cahyani
|
8
|
9
|
Didit
|
5
|
6
|
Elvi
|
6
|
7
|
Parida
|
7
|
8
|
Demikian pula halnya sebuah tes.Tes tersebut
dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan
berkali-kali.Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes
tersebutmenunjukkan ketetapan.Dengan kata lain, jika kepada para siswa
diberikan tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap
berada dalam urutan (ranking) yang sama dalam kelompoknya.
Walaupun tampaknya hasil tes pada pengetesan kedua
lebih baik, hasil tetapi karena kenaikannya dialami oleh semua siswa, maka tes
yang digunakan dapat dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi.Kenaikan tes
kedua barangkali disebabkan oleh adanya "pengalaman" yang diperoleh
pada waktu mengerjakan tes pertama.Dalam keadaan seperti labu, ini dikatakan
bahwa ada carry over practice effect,
yaitu adanya akibat yang dibawa karena siswa telah mengalami suatu kegiatan
penjelasan tentang reliabilita secara lebih terperinci, dapat diba d bab lain.
Jika dihubungkan dengan
validitas maka
- validitas adalah ketepatan.
- Reliabilitas adalah ketetapan.
c. Objektivitas
Dalam pengertian sehari-hari telah dengan cepat
diketahui bahwa objektif berarti tidak adanya unsur pribadi yang
mempengaruhi.Lawan dari objektif adalah subjektif artinya terdapat unsur
pribadi yang masuk memengaruhi.Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas
apabila dalam dua melaksanakan tes itu tidak ada faktor subjektif yang
memengaruhi.Hal ini terutama terjadi pada sistem skoringnya.
Apabila
dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan (consistency)
pada sistem skoring, sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil
tes.
Ada
2 (dua) faktor yang memengaruhi subjektivitas dari sesuatu tes, yaitu bentuk
tes dan penilai.
1)
Bentuk tes
Tes yang berbentuk
uraian,akan memberi banyak kemungkinan ukkan kepada si penilai untuk memberikan
penilaian menurut caranya sendiri.Dengan demikian maka hasil dari seorang siswa
yang mengerjakan soal-soal dari sebuah tes, akan dapat berbeda apabila pera dinilai
oleh dua orang penilai.Itulah sebabnya pada waktu ini ada baik kecenderungan
penggunaan tes objektif di berbagai bidang Untuk syans menghindari masuknya
unsur subjektivitas dari penilai, maka sistem naikan skoringnya dapat dilakukan
dengan cara sebail baiknya, antara lain yans dengan membuat pedoman skoring
terlebih dahulu.
2)
Penilai
Subjektivitas
dari penilai akan dapat yang memengaruhi terutama dalam tes bentuk uraian
Faktor-faktor subjektivitas antara lain kesan penilai terhadap siswa, tulis
bahasa, waktu mengadakan penilaian, kelelahan, dan sebagain Untuk menghindari
atau mengurangi masuknya unsur subjektif dalam pekeriaanpenilaian, maka
penilaian atau evaluasi ini ha dilaksanakan dengan mengingat pedoman Pedoman
yang dima tentama menyangkut masalah pengadministrasian,yaitu kontinuita dan
komprehensivitas
a) Evaluasi harus dilakukan secara kontinu
(terus-menerus) Dengan evaluasi yang berkal-kali dilakukan maka guru akan
memperoleh gambaran yang lebihjelas tentang keadaan siswa Tes yang diadakan
secara on the spot dan hanya satu atau dua kali, tidak akan dapat memberikan
hasil yang objektif tentang keadaan seorang siswa.Faktor kebetulan, akan sangat
meng- ganggu hasilnya.Kalau misalnya ada seorang anak yang sebetulnya pandai,
tetapi pada waktu guru mengadakan tes dia sedang dalam kondisi yang jelek
karena semalaman merawat ibunya yang sedang sakit, maka ada kemungkinan nilai
tesnya jelek pula.
b) Evaluasi harus dilakukan secara komprehensif
(menyeluruh) yang dimaksud dengan evaluasi yang komprehensifdisini adalah atas
berbagai segi peninjauan, yaitu:
(1) Mencakup keseluruhan materi.
(2) Mencakup
berbagai aspek berpikir (ingatan, pemahaman aplikasi, dan sebagainya)
(3). Melalui berbagai cara yaitu tertulis, lisan, tes
perbuatan tentang evaluasi insidental, dan sebagainya
Uraian tentang evaluasi yang komprehensif.
d. Praktikabilitas (Practicability)
Sebuah
tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut
bersifat praktis, mudah pengadministrasiannya.
Tes yang praktis adalah tes
yang :
1) Mudah dilaksanakan, misalnya tidak menuntut peralatan yang banyak dan
memberi kebebasan kepada siswa untuk mengerjakan terlebih dahulu bagian yang
dianggapmudah oleh siswa.
2) Mudah pemeriksaannya, artinya bahwa tes itu dilengkapi dengan muitas
kunci jawaban maupun pedoman skoringnya.Untuk soal bentuk objektif, pemeriksaan
akan lebih mudah dilakukan jika dikerjakan oleh siswa dalam lembar jawaban.
3) Dilengkapi dengan
petunjuk petunjuk yang jelas sehingga dapat siswa.diberikan/diawali oleh orang
lain.
e. Ekonomis
Yang
dimaksud dengan ekonomis di sini ialah bahwa pelaksanaan tes yang tersebut
tidak membutuhkan ongkos/biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang
lama.
BAB III
KESIMPULAN
1. Prinsip dalam evaluasi yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat
tiga komponen, yaitu:
a.
Tujuan
pembelajaran,
b.
Kegiatan
pembelajaran atau KBM,dan
c.
Evaluasi.
2. Test
adalah: adalah merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui
atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah
ditentukan.
3. Dalam
pelaksanaan tes yang dilaksanakan guna proses pembelajaran sumber persyaratan
tes didasarkan atas dua hal :
Pertama : menyangkut mutu tes
Kedua
: menyangkut pengadministrasian dalam pelaksanaan.
4.
Sebuah tes yang dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur, harus
memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki :
a. Validitas
b. Reliabilitas
c. objektivitas
d. Praktikabilitas
e. Ekonomis
DAFTAR PUSTAKA
Suharsimi
Arikunto, 2012, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara.
Suwarto,
2013, Pengembangan Tes Diagnostik
dalam Pembelajaran, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.