PRINSIP DAN EVALUASI TEST


BAB I
PENDAHULUAN
1.         Latar Belakang
        Isu aktual yang berkembang dalam pendidikan saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan Indonesia yang telah banyak disadari oleh berbagai pihak, terutama oleh para pemerhati pendidikan di Indonesia. Rendahnya mutu pendidikan ini dapat dilihat, antara lain rendahnya rata-rata nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) untuk semua bidang study yang di-UAN-kan, baik tingkat nasional maupun daerah. Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia juga diakui oleh wakil presiden Yusuf Kalla dalam jumpa pers di kantornya tanggal 1 Juli 2005.[1] Melalui evaluasi yang dilakukan dari pihak sekolah ataupun pemerrintah diharapkan siswa dapat memperbaiki proses pembelajaran yang kurang dan dapat ditingkatkan. Melalui evaluasi yang ada guru dapat memberi pembelajaran yang lebih sehingga dapat memperbaiki kekuarangan siswa dalam pembelajarannya.
       Tes merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengumpulkan data dalam melakukan penilaian, penilaian membutuhkan yang namanya data untuk menghasilkan penilaian yang objektif. Tes membutuhkan alat dalam pelaksanaannya, apabila dalam pelaksanaan test tidak ada alat yang digunakan, kemungkinan kemajuan-kemajuan dalam segala bidang akan terlambat dan tidak mempunyai sasaran yang tepat.
       Dengan adanya tes disegala bidang, maka akan terkontrol dan dapat dievaluasi dengan baik, karena melalui test kita dapat mengetahui seberapa pencapaian yang didapatkan objek, terutama dalam bidang pendidikan, disni siswa sebagai objek dapat dilihat sudah sampai amnakah siswa dapat mencapai tujuan-tujuan yang akan dicapai. Maka ketika tes itu dilaksanakan harus dapat memaksimalkan alat yang digunakan dan sesuai dengan tujuan dan objek yang akan dituju.


2.        Rumusan Masalah
A.    Bagaimana prinsip evaluasi dalam pembelajaran ?
B.     Apa sajakah alat evaluasi dalam pembelajaran ?
C.     Apakah penegrtian dari Test dalam pembelajaran ?
D.    Apa sajakah persyaratan test dalam pembelajaran ?
E.     Bagaimana ciri-ciri test yang baik ?

3.      Tujuan
A.       Mengetahui prinsip evaluasi dalam pembelajaran.
B.        Mengetahui alat evaluasi dalam pembelajaran.
C.        Mengetahui penegrtian dari Test dalam pembelajaran.
D.       Mengetahui persyaratan test dalam pembelajaran.
E.        Mengetahui ciri-ciri test yang baik.
                              
BAB II
PEMBAHASAN
1.      Prinsip Evaluasi
Ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga komponen, yaitu:
a.       Tujuan pembelajaran,
b.      Kegiatan pembelajaran atau KBM,dan
c.       Evaluasi.[2]
Triangulasi tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut.
                                                Tujuan


                     KBM                                            Evaluasi
Penjelasan dari bagan triangulasi adalah demikian.
a.       Hubunga antara Tujuan dengan KBM
         Kegiatan belajar-mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, anak panah yang menunjukkan hubungan antara keduanya mengarah pada tujuan dengan makna bahwa KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM, menunjukkan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya di KBM.
b.      Hubungan antara Tujuan dengan Evaluasi
         Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai. Dengan makna demikian maka anak panah berasal dari Evaluasi menuju ke Tujuan. Dan juga dalam menyusun alat evaluasi ia mengacu pada tujuan yang sudah dirumuskan.
c.       Hubungan antara KBM dengan Evaluasi
         Evaluasi juga harus mengacu atau disesuaikan dengan KBM yag dilaksanakan. Misalnya, juka kegiatan belajar mengajar dilakukan oleh guru dengan menitikberatkan pada keterampilan, evaluasi juga harus mengukur tingkat keterampilan siswa, bukannya mengukur dari aspek pengetahuanya.

2.      Alat Evaluasi
Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang dalam melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan efisien.Kata “alat” bisa disebut juga dengan istilah “instrument”.Dengan demikian, alat evaluasi juga dikenal dengan instrument evaluasi.
            Dengan pengertian tersebut, alat evaluasi dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu dengan hasil seperti keadaan yang dievaluasi.Dalam menggunakan alat tersebut evaluator menggunakan cara atau teknik, maka dikenal dengan teknik evaluasi. Seperti disebutkan diatas, ada dua teknik evaluasi, yaitu teknik non tes dan teknik tes.
A.    Teknik Nontes
Dalam teknik non tes ada beberapa macam yang tergolong teknik non tes adalah sebagai berikut:
1.      Skala bertingkat (rating scale)
Skala menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap sesuatu hasil pertimbangan.Biasanya angka-angka yang digunakan diterapkan pada skala dengan jarak yang sama. Meletakkannya secara bertingkat dari yang rendah ke yang tinggi.Dengan demikian, skala ini dinamakan skala bertingkat.Kita dapat menilai hampir segala sesuatu dengan skala.Dengan maksud agar pencatatannya dapat objektif, maka penilaian terhadap penampilan atau penggambaran kepribadian seseorang disajikan dan disampaikan dalam bentuk skala yang telah tersusun.
2.      Kuesioner (questionair)
Kuesioner juga sering dikenal sebagai angket.Pada dasarnya, kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus di isi oleh orang yang akan diukur (responden). Dengan kuesioner ini orang dapat diketahui tentang keadaan/data diri, pengalaman, pengetahuan sikap atau pendapatnya, dan lain-lain.
Tentang macam kuesioner, dapat ditinjau dari beberapa segi.
a.       Ditinjau dari segi siapa yang menjawab, maka ada:
(1)   Kuesioner langsung, adalah kuesioner yang dikirimkan dan di isi langsung oleh responden.
(2)   Kuesioner tidak langsung, adalah kuesioner yang dikirimkan dan di isi oleh bukan oleh responden. Kuesioner tidak langsung biasanya digunakan untuk mencari informasi tentang bawahan, anak, saudara, asisten, tetangga, dan orang- orang sekiatrnya sebagainya.
b.      Ditinjau dari segi cara menjawab, maka ada:
(1)   Kuesioner tertutup, adalah kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban lengkap sehingga responden hanya tinggal member tanda pada jawaban yang dipilih.
(2)   Kuesioner terbuka, adalah kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga responden bebas mengemukakan pendapatnya.  Kuesioner terbuka disusun apabila jenis jawaban akan beragam. Misalnya, keterangan alamat responden, tidak mungkin diberikan secara memilih pilihan jawaban yang disediakan. Kuesioner terbuka juga digunakan untuk menerima pendapat.

3.      Daftar cocok (check list)
Yang dimaksud dengan daftar cocok adalah deretan pernyataan (yang biasanya singkat-singkat), dimana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok ( ) di tempat yang sudah disediakan.

4.      Wawancara (interview)
Wawancara atau interview adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan cara Tanya jawab sepihak. Dikatakan sepihak karena dalam wawancara ini responden tidak diberi kesempatan sama sekali unuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang digunakan hanya diajukan oleh subjek evaluasi.
wawancara dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a.       Wawancara bebas, dimana responden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya, tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang telah dibuat oleh subjek evaluasi.
b.      Wawancara terpimpin, yaitu wawancara yang dilakukan oleh subjek evaluasi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun dan direncanakan terlebih dahulu agar tersusun baik.

5.      Pengamatan (observation)
Pengamatan atau oservasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis.
Ada tiga macam observasi:
a.       Observasi partisipan, yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat, dalam hal ini pengamat memasuki dan mengikuti kegiatan kelompok yang diamati.
b.      Observasi sistematik, yaitu observasi dimana faktor-faktor yang diamati sudah didaftar secara sistematis dan sudah diatur menurut kategorinya. Berbeda dengan observasi partisipan, observasi sistemik dilakukan dari luar kelompok.
c.       Observasi eksperimental terjadi jika pengamat tidak berparisipasi dalam kelompok. Dalam hal ini, ia dapat mengendalikan unsur-unsur penting dalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi itu dapat diatur sesuai dengan target yang dirancang sebagai tujuan evaluasi.
6.      Riwayat hidup
Riwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama masa kehidupannya.Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan, dan sikap dari objek yang d inilai .
B.     Teknik Tes
Menurut Webster’s Collegiate ,Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Apabila pengertian tersebut dikaitkan dengan evalasi yang diakukan di sekolah, khususnya di suatu kelas, maka tes mempunyai fungsi ganda, yaitu mengukur siswa dan untuk mengukur keberhasilan program pengajaran.
Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa, tes dibagi menjadi 3, yaitu:
1.      Tes diagnostik,
2.      Tes formatif, dan
3.      Tessumatif

1.      Tes diagnostic
Tes diagnostic adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan hal tersebut dapat dilakukan penanganan dan penyikapan terhadap hal tersebut yang tepat.

2.      Tes formatif
Dari kata form yang merupakan dasar dari istilah formatif, maka evaluasi formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manasiswa telah terbentuk setelah mengikuti suatu program tertentu.Dalam hal ini, tesformatif dapat juga dipandang sebagai tes diagnostic pada akhir pelajaran.
Evaluasi formatif atau tes formatif mempunyai manfaat, baik bagi pendidik/ guru, siswa, maupun  rencana- rencana program itu sendiri.
a.       Manfaat bagi siswa
1)      Digunakan untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai materi program secara menyeluruh.
2)      Merupakan penguatan bagi siswa.
3)      Usaha perbaikan.
4)      Sebagai diagnosis.
b.      Manfaat bagi guru
1)      Mengetahui sampai sejauh mana materi yang diajarkan sudah dapat diterima oleh siswa.
2)      Mengetahui bagian-bagian mana dari materi pelajaran yang dikuasai siswa.
3)      Dapat meramalkan sukses dan tidaknya seluruh program yang diberikan.
c.       Manfaat bagi program
Setelah diadakan tes formatif, maka diperoleh hasil. Dari hasil tersebut dapat diketahui:
1)      Apakah program yang telah diberikan merupakan program yang tepat dalam arti sesuai dengan kecakapan anak.
2)      Apakah program tersebut membutuhkan pengetahuan-pengetahuan prasyarat yang belum diperhitungkan.
3)      Apakah diperlukan alat, sarana, dan prasarana untuk mempertinggi hasil yang dicapai.
4)      Apakah metode, pendekatan, dan alat evaluasi yang digunakan tepat.
3.      Tes sumatif
Evaluasi sumatif atau tes sumatif dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok atau sebuah program yang lebih besar.Dalam pengalaman disekolah, tes formatif dapat disamakan dengan ulangan umum, sedangkan tes sumatif ini dapat disamakan dengan ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada tiap akhir semester.
Manfaat tes sumatif ada tiga:
a.       Untuk menentukan nilai.
b.      Untuk menentukan seorang anak dapat atau tidaknya mengikuti kelompok dalam menerima program berikutnya.
c.       Untuk mengisi catatan kemajuan belajar siswa yang akan berguna bagi:
1)      Orang tua
2)      Pihak bimbingan dan penyuluhan disekolah
3)      Pihak-pihak lain apabila siswa tersebut akan pindah ke sekolah lain, melanjutkan sekolah, atau memasuki lapangan kerja.
3.      Pengertian Test
Istilah tes diambil dari kata testum. Suatu pengertian dalam bahasa Prancis kuno yang berarti piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Ada pula yang mengartikan sebagai sebuah piring yang dibuat dari tanah. Didorong oleh munculnya statistik dalam penganalisisan data dan infromasi, maka akhirnya tes ini digunakan dalam berbagai bidang seperti tes kemampuan dasar, tes kelelahan perhatian, tes ingatan, tes minat, tes sikap, dan sebagainya. Yang terkenal penggunaannya di sekolah hanyalah tes prestasi belajar.
Sebelum sampai kepada uraian yang lebih jauh, maka akan diterangkan dahulu arti dari beberapa istilah-istilah yang berhubungan dengan tes ini.
-          Tes
(Sebelum adanya Ejaan Yang Disempurnakan dalam bahasa Indonesia titulis dengan test), adalah merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Untuk mengerjakan tes ini tergantung dari petunjuk yang diberikan, misalnya: melingkari salah satu huruf didepan pilihan jawaban, menerangkan, mencoret jawaban yang salah, melakukan tugas atau suruhan, menjawab secara lisan, dan sebagainya.
-          Testing
Testing merupakan saat pada waktu tes itu dilaksanakan. Dapat juga dikatakan testing adalah saat pengambilan tes.
-          Testee
(Dalam istilah Indonesia tercoba), adalah responden yang sedang mengerjakan tes. Orang-orang inilah yang akan dinilai atau diukur, baik mengenai kemampan, minat, bakat, pencapaian, dan sebagainya.

-          Tester
(Dalam istilah Indonesia: pencoba), adalah orang yang diserahi untuk melaksanakan pengambilan tes terhadap para responden. Dengan kata lain, tester adalah subjek evaluasi (tetapi adakalanya hanya orang yang ditunjuk oleh subjek evaluasi untuk melaksanakan tugasnya). Tugas tester antara lain:
a.       Mempersiapkan ruangan dan perlengkapan yang diperlukan.
b.      Membagikan lembaran tes dan alat-alat lain untuk mengerjakan.
c.       Menerangkan cara mengerjakan tes.
d.      Memberikan tanda-tanda waktu.
e.       Mengumpulkan pekerjaan responden.
f.       Mengisi berita acara atau laporan yang diperlukan(jika ada).[3]
Berdasarkan uraian diatas, penulis mengambil makna dari test adalah: adalah merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.

4.      Persyaratan Test
Dalam pembelajaran kita memerlukan sebuah penilaian, yang dapat mengukur hasil belajar siswa baik itu dalam lembaga pendidikan formal ataupun non formal, karena melalui penilaian yang dilakukan oleh pendidik terhadapa siswa, pendidik dapat menjadikan penilaian itu sebagai acuan untuk memberikan pembelajaran yang lebih baik kepada siswa. Dalam penilaian ini ada beberapa bentuk yang digunakan pendidik terhadap siswa. Salah satunya ada penilaian berupa Test. dalam tujuan test yang penting adalah untuk :
(a)    Mengetahui tingkat kemampuan siswa.
(b)   Mengukur pertumbuhan dan perkembangan siswa
(c)    Mendiagnosis kesulitan belajar siswa
(d)   Mengetahui hasil pengajaran
(e)    Mengetahui hasil belajar
(f)    Mengetahui pencapaian kurikulum
(g)   Mendorong siswa belajar
(h)   Mendorong guru agar mengajar yang lebih baik.[4]
Dalam pelaksanaan tes yang dilaksanakan guna proses pembelajaran sumber persyaratan tes didasarkan atas dua hal :
Pertama : menyangkut mutu tes       
Kedua : menyangkut pengadministrasian dalam pelaksanaan.
Walaupun dalam melaksankaan tes sudah diusahakan mengkuti aturan tentang suasana, cara, dan prosedur yang telah ditentukan namun tes itu sendiri mengandung kelemahan-kelemahan. Gilbert Sax menyebutkan beberapa kelemahan sebagai berikut :
1)      Adakalanya tes (secara psikologis terpaksa) menyinggung pribadi seseorang (walaupun tidak sengaja demikian), misalnya dalam rumusan soal, pelaksanaan, maupun pengumuman hasil. Dalam kompetensi tersebut suatu kesempatan yang pemilihannya melalui teks tidak mau tentu ada pihak-pihak yang dikalahkan, dan mereka itu tidak mau tentu ada pihak-pihak yang dikalahkan, dan mereka itu tentu merasa tersinggung pribadinya.
2)      Tes mengategorikan siswa secara tepat.
Dengan mengikuti hasil tes pertama kadang-kadang orang lalu membedakan cap kepada siswa menurut kelompok atau kategorinya, misalnya A termasuk pandai, sedang, atau kurang. Sangat sukar bagi tester untuk mengubah predikat tersebut jika memang tidak sangat menyolok hasil dari tes berikutnya.
3)      Tes tidak mendukung kecemerlangan dan daya kreasi siswa.
Dengan rumusan soal tes yang kompleks kadang-kadang siswa yang kurang padahal hanya melihat pada kalimat secara sepintas. Cara seperti ini boleh jadi menguntungkan karena waktu yang disediakan tidak hanya habis trebuang. Siswa-siswa yang pandai, karena terlalu hati-hati mempertimbangkan susunan kalimat, dapat terjebak pada suatu butir tes dan mereka akan kehabisan waktu.
4)      Tes hanya mengukur aspek tingkah laku yang sangat terbatas.
Manusia mempunyai seperangkat sifat (traits) yang tidal semuanya tepat diukur melalui tes. Tingkah laku sebagai cermin dari sifat-sifat manusia adakalanya lebih cocok diketahui melalui pengamalan secara cermat. Beberapa sifat yang lain mungkin perlu diukur dengan berbagai instrument yang bukan tes.

5.      Ciri-Ciri Tes yang Baik
Sebuah tes yang dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur, harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki :
a.       Validitas
b.      Reliabilitas
c.       objektivitas
d.      Praktikabilitas
e.       Ekonomis
            Keterangan dari masing-masing ciri akan diberikan dengan lebih terperinci sebagai berikut.
a.      Validitas
Sebelum mulai dengan penjelasan perlu kiranya dipahami terlebih dahulu perbedaan arti istilah "validitas" dengan valid". "Validitas merupakan sebuah kata benda, sedangkan "valid" merupakan kata sifat Dari pengalaman sehari-hari tidak sedikit siswa atau guru mengatakan: "Tes ini baik karena sudah validitas jelas kalimat tersebut tidak tepat. Yang benar adalah: "Tes ini sudah baik karena sudah valid" atau "Tes ini baik karena memiliki validitas yang tinggi Dalam pembicaraan evaluasi pada umumnya orang hanya mengenal istilah "valid" untuk alat evaluasi atau instrumen evaluasi. Hingga saat ini belum banyak buku yang menerapkan istilah "valid" untuk data. Dalam buku ini dicoba menjelaskan asal pengertian "valid" untuk instrumen dimulai dari pengertian "valid" untuk data. sebuah data atau informasi dapat dikatakan valid apabila sesuai dengan keadaan senyatanya. Sebagai contoh, informasi tentang seorang bernama A menyebutkan bahwa si A pendek karena tingginya tidak lebih dari 140 sentimeter. Data tentang A ini dikatakan valid apabila memang sesuai dengan kenyataan, yakni bahwa tinggi A kurang da 140 Contoh lain, data B yang diperoleh dari cerita o lain menunjukkan pembohong. Bukti bahwa si B pembohong diperoleh dari kenyataan bahwa si B sering berbicara tidak benar, tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan demikian maka data tentang B tersebut walid dan cerita orang tersebut benar lika data yang dihasilkan dari sebuah instrumen valid, maka dapat dikatakan bahwa instrumen tersebut valid, karena dapat memberikan gambaran tentang data secara benar sesuai dengan kenyataan atau keadaan sesungguhnya. Dari sedikit uraian dan contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa en data yang dihasilkan oleh instrumen benar dan valid. sesuai gan Jika kenyataan, maka instrumen yang digunakan tersebut juga valid. Sebuah tes disebut valid apabila tes itu dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur Istilah valid sangat sukar dicari gantinya. Ada istilah baru yang mulai diperkenalkan, yaitu sahih sehingga validitas diganti "Valdes menjadi kesahihan Walaupun istilah tepat belum dapat mencakup semua kata arti yang tersirat dalam kata valid dan kata 'tepat kadang-kadang digunakan dalam konteks yang lain, akan tetapi tambahan kata tepat dalam menerangkan kata "valid" dapat memperjelas apa yang dimaksud.
 Contoh:
Untuk mengukur besarnya partisipasi siswa dalam proses belajar. mengena mengajar, bukan diukur melalui nilai yang diperoleh pada waktu ulangan, tetapi dilihat melalui:
-          kehadiran
-          terpusatnya perhatian pada pelajaran
-          ketepatan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam arti relevan pada permasalahannya.
Nilai yang diperoleh pada waktu ulangan, bukan menggambarkan seoran! partisipasi, tetapi menggambarkan prestasi belajar Ada beberapa macam validitas, yaitu validitas logis (logical validity), validitas ramalan (predictive validity), dan validitas kesejajaran (concurrent validity), Uraian ang secara terperinci akan dibicarakan pada bab lain.
b.      Reliabilitas
Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability dalam bahasa inggris , berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya seperti halnya istilah validitas dan valid, kekacauan dalam penggunaan istilah reliabilitas sering dikacaukan dengan istilah reliabel Reliabilitas" merupakan kata benda, sedangkanreliabel merupakan kata sifat atau kata keadaan. Seorang dikatakan dapat dipercaya jika orang tersebut selalu bicara ajeg,tidak berubah ubah pembicaraannya dari waktu ke waktu.
Contoh :
                                    TABEL NILAI TES PERTAMA DAN TES KEDUA


Nama siswa
waktu tes
Pengetesan pertama
Pengetesan kedua
Amin
6
7
Badu
5,5
6,6
Cahyani
8
9
Didit
5
6
Elvi
6
7
Parida
7
8

Demikian pula halnya sebuah tes.Tes tersebut dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali.Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebutmenunjukkan ketetapan.Dengan kata lain, jika kepada para siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap berada dalam urutan (ranking) yang sama dalam kelompoknya.
Walaupun tampaknya hasil tes pada pengetesan kedua lebih baik, hasil tetapi karena kenaikannya dialami oleh semua siswa, maka tes yang digunakan dapat dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi.Kenaikan tes kedua barangkali disebabkan oleh adanya "pengalaman" yang diperoleh pada waktu mengerjakan tes pertama.Dalam keadaan seperti labu, ini dikatakan bahwa ada carry over practice effect, yaitu adanya akibat yang dibawa karena siswa telah mengalami suatu kegiatan penjelasan tentang reliabilita secara lebih terperinci, dapat diba d bab lain.
 Jika dihubungkan dengan validitas maka
- validitas adalah ketepatan.
- Reliabilitas adalah ketetapan.
c.       Objektivitas
Dalam pengertian sehari-hari telah dengan cepat diketahui bahwa objektif berarti tidak adanya unsur pribadi yang mempengaruhi.Lawan dari objektif adalah subjektif artinya terdapat unsur pribadi yang masuk memengaruhi.Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam dua melaksanakan tes itu tidak ada faktor subjektif yang memengaruhi.Hal ini terutama terjadi pada sistem skoringnya.
Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan (consistency) pada sistem skoring, sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.
Ada 2 (dua) faktor yang memengaruhi subjektivitas dari sesuatu tes, yaitu bentuk tes dan penilai.
1)      Bentuk tes
 Tes yang berbentuk uraian,akan memberi banyak kemungkinan ukkan kepada si penilai untuk memberikan penilaian menurut caranya sendiri.Dengan demikian maka hasil dari seorang siswa yang mengerjakan soal-soal dari sebuah tes, akan dapat berbeda apabila pera dinilai oleh dua orang penilai.Itulah sebabnya pada waktu ini ada baik kecenderungan penggunaan tes objektif di berbagai bidang Untuk syans menghindari masuknya unsur subjektivitas dari penilai, maka sistem naikan skoringnya dapat dilakukan dengan cara sebail baiknya, antara lain yans dengan membuat pedoman skoring terlebih dahulu.
2)      Penilai
Subjektivitas dari penilai akan dapat yang memengaruhi terutama dalam tes bentuk uraian Faktor-faktor subjektivitas antara lain kesan penilai terhadap siswa, tulis bahasa, waktu mengadakan penilaian, kelelahan, dan sebagain Untuk menghindari atau mengurangi masuknya unsur subjektif dalam pekeriaanpenilaian, maka penilaian atau evaluasi ini ha dilaksanakan dengan mengingat pedoman Pedoman yang dima tentama menyangkut masalah pengadministrasian,yaitu kontinuita dan komprehensivitas
a) Evaluasi harus dilakukan secara kontinu (terus-menerus) Dengan evaluasi yang berkal-kali dilakukan maka guru akan memperoleh gambaran yang lebihjelas tentang keadaan siswa Tes yang diadakan secara on the spot dan hanya satu atau dua kali, tidak akan dapat memberikan hasil yang objektif tentang keadaan seorang siswa.Faktor kebetulan, akan sangat meng- ganggu hasilnya.Kalau misalnya ada seorang anak yang sebetulnya pandai, tetapi pada waktu guru mengadakan tes dia sedang dalam kondisi yang jelek karena semalaman merawat ibunya yang sedang sakit, maka ada kemungkinan nilai tesnya jelek pula.
b) Evaluasi harus dilakukan secara komprehensif (menyeluruh) yang dimaksud dengan evaluasi yang komprehensifdisini adalah atas berbagai segi peninjauan, yaitu:
(1) Mencakup keseluruhan materi.
(2) Mencakup berbagai aspek berpikir (ingatan, pemahaman aplikasi, dan sebagainya)
(3). Melalui berbagai cara yaitu tertulis, lisan, tes perbuatan tentang evaluasi insidental, dan sebagainya
Uraian tentang evaluasi  yang komprehensif.


d.      Praktikabilitas (Practicability)
Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis, mudah pengadministrasiannya.
Tes yang praktis adalah tes yang :
1) Mudah dilaksanakan, misalnya tidak menuntut peralatan yang banyak dan memberi kebebasan kepada siswa untuk mengerjakan terlebih dahulu bagian yang dianggapmudah oleh siswa.
2) Mudah pemeriksaannya, artinya bahwa tes itu dilengkapi dengan muitas kunci jawaban maupun pedoman skoringnya.Untuk soal bentuk objektif, pemeriksaan akan lebih mudah dilakukan jika dikerjakan oleh siswa dalam lembar jawaban.
3) Dilengkapi dengan petunjuk petunjuk yang jelas sehingga dapat siswa.diberikan/diawali oleh orang lain.
e. Ekonomis
Yang dimaksud dengan ekonomis di sini ialah bahwa pelaksanaan tes yang tersebut tidak membutuhkan ongkos/biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.

BAB III
KESIMPULAN
1.      Prinsip dalam evaluasi yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga komponen, yaitu:
a.       Tujuan pembelajaran,
b.      Kegiatan pembelajaran atau KBM,dan
c.       Evaluasi.
2.      Test adalah: adalah merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.
3.      Dalam pelaksanaan tes yang dilaksanakan guna proses pembelajaran sumber persyaratan tes didasarkan atas dua hal :
Pertama : menyangkut mutu tes         
Kedua : menyangkut pengadministrasian dalam pelaksanaan.
4.      Sebuah tes yang dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur, harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki :
a.       Validitas
b.      Reliabilitas
c.       objektivitas
d.      Praktikabilitas
e.       Ekonomis











DAFTAR PUSTAKA
Suharsimi Arikunto, 2012, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara.
Suwarto, 2013,  Pengembangan Tes Diagnostik dalam Pembelajaran, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.






[1] Suwarto, Pengembangan Tes Diagnostik dalam Pembelajaran, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2013, hlm. 1.
[2] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, 2012, hlm. 38.
[3]Ibid. , hlm 67-68.
[4]  Op.cit. Suwarto. Hlm. 93.

Popular posts from this blog

Impian-2

Manajemen Keuangan Generasi Milenial

Proses Terbaik untukmu