PENGEMBANGAN SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN


A.    Konseptual dari Pengembangan Sumber dan Media Pembelajaran.
a.       Pengertian Pengembangan Sumber dan Media Pembelajaran.
Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai tujuan-tujuan pendidikan. Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam lingkungan keluarga, interaksi pendidikan terjadi antara orang tua sebagai pendidik dan anak sebagai peserta didik. Interaksi ini berjalan tanpa rencana tertulis. Orang tua menggunakan suatu pembelajaran kepada anaknya dengan hal-hal yang langsung, tanpa terencana secara tertulis , namun mereka memiliki harapan untuk menjadikan anak mereka menjadi anak yang baik dan berakhlak mulia.
Berbeda dengan pembelajaran yang terjadi di sekolah, yang lebih bersifat formal. Guru sebagai pendidik disekolah telah dipersiapkan secara formal dalam lembaga pendikan. Ia telah mempelajari ilmu, keterampilan, dan seni sebagai guru. Ia juga telah dibina untuk memiliki kepribadian sebagai pendidik[1]. Maka dari itu seorang guru harus bisa mengaplikasikan segala ilmu yang telah diperoleh guna untuk mendidik dan membimbing peserta didik menjadi seorang yang baik, cerdas, dan memiliki budi pekerti yang baik, salah satunya dengan cara guru dapat menggunakan segala bentuk media baik itu dari diri sendiri maupun dengan bantuan alat sebagai media. Dalam hal ini pengembangan sangat perlu dilakukan sebagai penunjang dalam penggunaan media. Pengembangan merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, konseptual dan moral dalam suatu tujuan yang akan dicapai, dan media secara bahasa kata media berasal dari bahasa latin medium yang secara harfiah berarti “tengah”,”perantara”, atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara ( وسا ئل) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach dan Ely (1971) mengemukakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media.[2] Secara khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai media, kita akan melihat bebrapa pendapat dari definisi para pakar yang telah mengemukakan bahwa media adalah sebagai berikut:[3]
1)      Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Jadi media adalah perluasan dari guru (Schram, 1982).
2)      National Education Asociation (NEA) memberikan batasan bahwa media merupakan sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual, temasuk teknologi perangkat kerasnya.
3)      Briggs berpendapat bahwa media merupakan alat untuk memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar.
4)      Association of Education Communication Technologi (AECT) memberikan batasan bahwa media merupakan segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan.
5)      Sedangkan Gagne berpendapat bahwa sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.
6)      Segala sesuau yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa untuk belajar (Miarso, 1989)
Media pembelajaran selalu terdiri atas dua unsure penting, yaitu unsure peralatan atau perangkat keras (hardware) dan unsure pesan yang dibawanya (message/software). Dengan demikian perlu sekali anda camkan, media pembelajaran memerlukan peralatan untuk  menyajikan pesan, namun yang tepenting bukanlah peralatan itu, tetapi pesan atau informasi belajar yang dibawakan oleh media tersebut.[4]
Dari semua pengertian yang telah dipaparkan diatas, yang telah dijelaskan secara bahasa, dan menurut para ahli, maka penulis mengambil sebuah pengertian dari sebuah buku karangan Prof. Dr. H. Asnawir dan Drs. M. Basyiruddin Usman, M.pd. tentang pengertian pengembangan sumber dan media pembelajaran adalah suatu usaha penyusunan program media pembelajaran yang lebih tertuju pada perencanaan media.[5]
Penulis mengemukakan dari beberapa pengertian para ahli dan pengertian secara bahasa bahwa pengertian dari pengembangan sumber dan media pembelajaran adalah: suatu usaha peningkatan penyusunan atau perencanaan program media pembelajaran yang digunakan sebagai pendukung proses belajar dan mengajar agar pesan yang akan disampaikan dapat diterima oleh peserta didik dengan baik, lebih efektif dan efisien.
Media yang akan ditampilkan atau digunakan dalam proses belajar-mengajar terlebih dahulu direncanakan dan dirancang sesuai dengan kebutuhan lapangan atau siswanya, disamping itu disesuaikan dengan karakteristik materi yang akan disampaikan, sesuai dan cocok dengan norma-norma yang berlaku. Dalam pengembangan pengajaran ini, ada beberapa pertanyaan yang perlu diperhatikan sebelum sampai pada kesimpulan untuk merancang lebih jauh media yang diperlukan, antara lain:
1)      Apakah ada keterkaitan antara program media yang akan dikembangkan dengan proses belajar mengajar tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran?
2)      Siapakah sasaran yang akan dituju, apakah belajar tingkat SD, SLTP, SLTA, ataukan tingkat perguruan tinggi yang dijadikan sebagai audiensnya.
3)      Bila telah ditentukan sasaran tersebut, perlu dikaji kembali bagaimana karakteristik adien tersebut?
4)      Apakah media yang akan dimanfaatkan dan dirancang tersebut memang betul-betul dibutuhkan siswa dalam proses belajar mengajar?
5)      Apakah sasaran yang diharapkan setelah proses belajar mengajar nanti, dalam perubahan tingkah laku pada diri siswa?
6)      Apakah siswa mengalami kerugian secara intelektual bila tidak digunkan media tersebut?
7)      Apakah materi yang akan disajikan ada kesesuaiannya dengan media rancangan yang dipakai, sehingga terdapat perubahan tingkah laku yang diharapkan?
8)      Selajutnya bagaimana urutan materi pelajaran harus disajikan melalui media rancangan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan diatas akan mendasari perlu atau tidaknya pembuatan media rancangan atau diambil suatu alternatif lain yang memungkinkan pembuatan media secara efektif dan efisien.

Sehubungan dengan pengembangan media pengajaran ini, Arief S. Sadiman, dkk. Mengemukakan urutan langkah-langkah yang perlu diambil dalam mengembangkan program media, sebagi berikut:
1)   Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa.
2)   Merumuskan tujuan instruksional (instructional Objective) secara operasional  dan jelas.
3)   Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang dapat mendudkung tercapainya tujuan.
4)   Mengembangkan alat ukur keberhasilan.
5)   Menulis naskah media.
6)   Mengadakan tes dan revisi.

Langkah-langkah tersebut secara jelas dapat dilihat pada gambar flowchart berikut:

Identifikasi Kebutuhan
Perumusan Butir Materi
                                               
Perumusan Alat Pengukur Keberhasilan


Revisi
 


Perumusan Tujuan
Penulisan Naskah Media



Tes Uji Coba
Naskah Siap Produksi



Gambar 1. Model Pengembang Media .
Diadaptasi dari : Arief S. Sadiman, dkk. (1986:102)
a.       Fungsi Media Pembelajaran Dalam Proses Belajar Mengajar.
Secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut:[6]
1)      Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).
2)      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti misalnya:
a)      Objek yang terlalu besar, bisa digantikan dengan realita, gambar, film bingkai, film, atau model.
b)      Objek yang kecil, dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, atau gambar.
c)      Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau high speed photography.
d)     Kejadian atau peristiwa yang terjadi dimasa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, film bingkai, foto maupun secara verbal.
e)      Objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin-mesin) dapat disajikan dengan model, diagram, dan lain-lain.
f)       Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dll) dapat divisualkan dalam bentuk film, film bingkai, gambar, dan lain-lain.
3)      Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik. Didalam  hal ini media pendidikan berguna untuk:
a)   Menimbulkan kegairahan belajar
b)   Memungkinkan interaksi yang lebih langusung antara peserta didik dengan lingkungan dan kenyataan.
c)   Memungkinkan peserta didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
4)   Dengan sifat unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk semua siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Apalagi bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu dengan kemampuannya dalam:
a)      Memberikan perangsang yang sama.
b)      Mempersamakan pengalaman.
c)      Menimbulkan persepsi yang sama.

B.     Operasional Pengembangan Sumber dan Media Pembelajaran.

Sebagai  seorang guru, pernahkah anda menghadapi kesulitan dalam menjelaskan suatu materi pelajaran kepada siswa? Misalnya, anda ingin menjelaskan tentang seekor binatang yang disebut harimau kepada siswa SD kelas awal. Atau anda ingin menjelaskan tentang pesawat terbang kepada murid anda yang berada di pedalaman Irian, Sulawesi, Kalimantan atau tempat lain yang tidak ada pesawat terbang.  Atau anda ingin menjelaskan apa itu supermarket kepada siswa yang ada di kampong. Menghadapi masalah tersebut, biasanya ada cara yang mungkin anda lakukan. Diantaranya anda mungkin akan bercerita tentang harimau, pesawat tebang atau supermarket. Anda bisa bercerita mungkin karena pengalaman, membaca buku, cerita orang lain, atau pernah melihat gambar ketiga objek tersebut. Apabila murid anda sama sekali belum tahu, belum pernah melihat dari televise atau gambar di buku misalnya, maka betapa sulitnya anda menjelaskan hanya dengan kata-kata tentang objek tersebut. Kalau anda seorang yang ahli bercerita, tentu cerita anda akan sangat menarik bagi murid-murid. Namun tidak semua orang diberikan karunia kepandaian bercerita. Penjelasan dengan kata-kata mungkin akan menghabiskan waktu yang lama, pemahaman murid juga berbeda sesuai dengan pengetahuan mereka sebelumnya, bahkan bukan tidak mungkin akan menimbulkan kesalahan persepsi.[7]

            Dengan adanya media pembelajaran yang dapat membantu guru dalam menyampaikan pelajaran kepada peserta didik, tidak kalah penting dalam pemilihan media yang digunakan harus benar-benar sesuai dengan lingkungan dan sumber daya manusia yang ada di sekolah tersebut, jadi media yang ada dapat berguna dan mempermudah bukan mempersulit guru dalam menyampaikan. Berikut ada beberapa pertanyaan praktis yang dapat digunakan dalam rangka pembelian media jadi sebagaimana dikemukakan oleh Arief S. Sukadi (1986:86) sebagai berikut:[8]
1)      Apakah media yang bersangkutan relevan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai?
2)      Apakah media sumber informasi, catalog, dan sebagainya mengenai media yang bersangkutan?
3)      Apakah perlu dibentuk tim untuk mereview yang terdiri dari calon pemakai?
4)      Apakah ada media yang tersedia dipasar yang telah divalidasi?
5)      Apakah media yang bersangkutan boleh direview terlebih dahulu?
6)      Apakah tersedia format review yang sudah dibekukan?

Dengan adanya pemilihan dalam pembelian atau pemilihan media pembelajaran, diharapkan para guru sebagai media pelaksana dalam proses pembelajaran dapat menggunakan media pembelajaran tesebut dengan baik dan berfungsi sebagai mestinya. Dan dapat mendukung proses belajar dan mengajar.
Untuk memperoleh nilai efektifitas yang tinggi dari sebuah media pembelajaran tidaklah mudah guru seyogyanya harus memahami cara dan teknik dalam menggunakan media tersebut:
1)      Teknik Penggunaan Media Pembelajaran
a)      Penggunaan Media Berdasarkan Tempat
Pembelajaran adalah satu kegiatan belajar mengajar yang melibatkan siswa dan guru dengan menggunakan berbagai sumber belajar baik dalam situasi kelas maupun diluar kelas. Dalam arti media yang digunakan untuk pembelajaran tidak selalu identik dengan situasi kelas dalam pola pengajaran konvensional namun proses belajar tanpa kehadiran gurupun dan lebih menghandalkan media termasuk dalam pembelajaran. Misalnya e learnin, pembelajaran individual dengan Cd interaktif, video interaktif dan lain-lain. Berdasarkan tempat penggunaannya, terdapat beberapa teknik penggunaan media pembelajaran, yaitu:[9]
(1)   Penggunaan Media di Dalam Kelas.
Pada teknik ini media dimanfaatkan untuk menunjang tecapainya tujuan tertentu dan penggunaannya dipadukan dengan proses belajar dan mengajar dalam situasi kelas. Dalam merencanakan pemanfaatan media tersebut guru harus melihat tujuan yang akan dicapai, materi pembelajaran yang mendukung tercapainya tujuan tersebut, serta strategi belajar mengajar yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut. Media pembelajaran yang dipilih haruslah sesuai dengan ketiga hal tersebut, ialah tujuan, materi dan strategi pembelajaran. Yang terpenting dalam hal ini media tersebut disajikan di ruang kelas dimana guru dan siswa hadir bersama-sama berinteraksi secara langsung (face to face). Tentu saja media yang dapat digunakan di kelas adalah yang memungkinkan dilihat dari sisi biaya, berat dan ukuran, kemampuan siswa dan guru untuk menggunakannya, dan tidak membahayakan bagi penggunanya. Dalam konteks ini media harus praktis, ekonomis, mudak untuk digunakan (user friendly).
(2)   Penggunaan Media di Luar kelas
Seperti yang telah disinggung di atas, terdapat media yang penggunaannya di luar situasi kelas. Dalam hal ini media tidak secara langsung dikendalikan oleh guru, namun digunakan oleh siswa sendiri tanpa instruksi guru atau melalui pengontrolan oleh orang tua siswa. Penggunaan media pembelajaran diluar situasi kelas dapat dibedakan dalam dua kelompok utama, yaitu penggunaan media tidak terprogram dan penggunaan media terprogram. Media tidak terprogram contohnya seperti Koran, televisi dll. Kemudia penggunaan media terprogram secara kurikulum, atau RPP yang sudah menjadi program sekolah.
b)      Variasi Penggunaan Media.
            Dalam penggunaan media pembelajaran, media dapat digunakan secara kelompok atau secara individu, tegantung pada kegunaannya. Seperti contoh dalam penggunaan media yang secara individu dalam penggunaan manual book sehingga siswa dapat menggunakan dengan sendiri-sendiri. Atau seperti dalam penggunaan Lab Komputer atau Lab sains lainnya saat melakukan praktek yang dalam meja itu sudah tesedia berbagai alat pelengkap belajar. yang digunakan secara berkelompok seperti contoh dengan pembagian kelompok-kelompok kecil (2-8 siswa), ataupun juga dapat dengan kelompok besar (9-40 siswa), dalam penggunaan media secara berkelompok biasanya ada tutor atau guru yang memimpin dalam penggunaannya, dan suara, gambar juga besar sesuai dengan kapasitas kelompok yang telah di bentuk.

C.    Landasan Filosofis Media Pembelajaran.
Seorang guru dalam menggunakan media pembelajaran perlu memperhatikan landasan filosofis.Artinya, penggunaan media semestinya didasarkan pada nilai kebenaran yang telah ditemukan dan disepakati banyak orang baik kebenaran akademik maupun kebenaran sosial.
Misalnya, isi pesan (materipelajaran) yang disampaikan kepada siswa seharusnya sudah merupakan kebenaran yang teruji secara obyektif, radikal dan empiris.Jangan sampai materi pelajaran masih salah, tidak baik, dan tidak indah yang disampaikan kepada peserta didik. Misalnya, guru mengajarkan tentang sejarah kebudayaan islam (SKI) dengan materi silsilah Nabi Muhammad SAW. Seorang guru perlu mengecek unsur kebenaran historis silsilah tersebut sebelum disampaikan kepada peserta didik. Proses inilah yang disebut penggunaan landasan filosofis dalam memilih isi dan media pembelajaran.
Media yang digunakan guru juga perlu dicek kembali kebenaran dan ketepatannya. Guru yang memilih media belum sesuai dengan materi yang akan disampaikan berarti media tersebut tidak benar, tidak bagus, dan tidak indah artinya penggunaan media yang tidak tepat belum mempertimbangkan landasan filosofis.[10]
a.       Landasan Penggunaan Media Pembelajaran
Kemajuan dan perkembangan teknologi sudah demikian menonjol, sehingga penggunaan alat-alat bantu dalam proses pembelajaran seperti alat audio, visual, komputer, serta perlengkapan sekolah disesuaikan dengan perkembangan jaman tersebut. Seyogyanya juga harus disesuaikan dengan tuntutan kurikulum sesuai denagn materi, metode, dan tingkat kemampuan belajar pebelajar agar dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik disekolah.
Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena adanya interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Sesungguhnya, pengalaman konkret dan pengalaman abstrak dialam oleh pebelajar secara silih berganti. Hasil belajar dari pengalaman langsung mengubah dan memperluas jangkauan abstraksi mereka, dan sebaliknya, kemampuan interpretasi lambang kata membantu pebelajar untuk memahami pengalaman yang didalamnya ia terlibat langsung.[11]
Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung, pengalaman pictorial / gambar dan pengalaman abstrak.[12]
Agar proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik , sebaiknya siswa diajak untuk memanfaatkan semua alat inderanya, guru berupaya untuk menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indera.




D.    Problema Dalam Penggunaan Media Pembelajaran.
Berdasarkan pengalaman, pengamatan dan diskusi dalam berbagai kesempatan dengan para guru, terdapat beberapa alasan guru tidak menggunakan media pembelajaran, yaitu :[13]
Pertama, menggunakan media itu repot. Mengajar dengan menggunakan media perlu persiapan. Apalagi kalau media itu semacam OHP, audio visual, vcd, slide projector atau internet. Perlu listrik lagi. Guru sudah sangat repot dengan menulis persiapan mengajar, jadwal pelajaran yang padat, jumlah kelas paralel yang sedikit, masalah keluarga di rumah dan lain-lain. Mana sempat memikirkan media pembelajaran. Demikianlah beberapa alasan yang sering dikemukakan oleh para guru. Padahal kalau guru mau berpikir dari aspek lain, bahwa dengan media pembelajaran akan lebih efektif, maka tidak ada alasan repot. Pikirkanlah bahwa sedikit repot, tetapi akan mendapatkan hasil optimal. Media pembelajaran juga relatif awet, artinya sekali menyiapkan bahan pembelajaran, dapat dipakai beberapa kali penyajian.
Kedua, media itu canggih dan mahal. Tidak selalu media itu harus canggih dan mahal. Nilai penting dari sebuah media pembelajaran bukan terletak pada kecanggihannya (apalagi harganya yang mahal) namun pada efektifitas dan efisiensi dalam membantu proses pembelajaran. Banyak media sederhana yang dapat dikembangkan oleh guru dengan harga murah. Kalaupun dibutuhkan media canggih semacam audiovisual atau multi media, maka “cost-nya” akan menjadi murah apabila dapat digunakan oleh banyak murid dan beberapa guru.
Ketiga, Banyak dari guru di Indonesia yang kesulitan dalam mengoperasikan media pembelajaran yang berbasis IT. Demam teknologi ternyata menyerang sebagian dari guru-guru kita. Ada beberapa guru yang “takut” dengan peralatan elektronik, takut kena setrum, takut korsleting, takut salah pencet, dan sebagainya. Alasan ini menjadi lebih parah ditambah dengan takut rusak. Akibatnya media OHP, audio-visual atau slide projector yang telah dimiliki, sejak awal beli baru tetap tersimpan rapi di ruang kepala sekolah. Sebenarnya, dengan sedikit latihan dan mengubah sikap bahwa media mudah dan menyenangkan, maka segala sesuatunya akan berubah.
Keempat, media itu hiburan (membuat murid main-main, tidak serius),sedangkan belajar itu serius. Alasan ini sudah jarang ditemui di sekolah, namun tetap ada. Menurut pendapat orang-orang terdahulu belajar itu harus dengan serius. Belajar itu harus mengerutkan dahi. Media pembelajaran itu identik dengan dengan hiburan. Hiburan adalah hal yang berbeda dengan belajar. Tidak mungkin belajar sambil santai. Ini memang pendapat orang-orang zaman dahulu. Paradigma belajar kini sudah berubah. Kalau bisa belajar dengan menyenangkan, mengapa harus dengan menderita?. Kalau dapat dilakukan dengan mudah, mengapa harus dipersulit?
Kelima, tidak tersedianya media pembelajaran di sekolah. Tidak tersedia media pembelajaran di sekolah, mungkin ini adalah alasan yang masuk akal. Tetapi seorang guru tidak boleh menyerah begitu saja. Ia adalah seorang profesional yang harus kreatif, inovatif dan banyak inisiatif. Media pembelajaran tidak harus selalu canggih, namun dapat juga dikembangkan sendiri oleh guru. Dalam hal ini pimpinan sekolah hendaklah cepat tanggap. Jangan sampai suasana kelas itu menjadi gersang, di kelas hanya ada papan tulis dan kapur.
Selain itu menurut A. Rifqi Amin, salah satu faktor yang menjadi permasalahan guru dalam penggunaan media pembelajaran di kelas yaitu:
            Ketidak Tertarikan Peserta Didik pada Media Pembelajaran yang Digunakan. Ketidak tertarikan peserta didik terhadap media adalah dengan menunjukkan sikap ‘ogah-ogahan’ dan tidak semangat untuk melakukan proses pembelajaran jika menggunakan media pembelajaran tertentu. Sehingga apabila media tersebut dipaksakan untuk digunakan mengakibatkan posisi siswa akan terbebani, dari merasa terbebani tersebut siswa tidak akan tertarik karena sebelum memanfaatkan media tersebut, siswa sudah harus dihadapkan masalah-masalah untuk menggunakan dan memahami media yang digunakan. Mulai dari itu mereka tidak akan tertarik pada media yang sama di kemudian hari. Sehingga tidak pelak, itu akan menghasilkan kebosanan, kemalasan dan membebankan resiko pembelajaran kepada siswa. Dan pada akhirnya tujuan pembelajaran yang seharusnya dilakukan secara efisien dan efektif tidak berjalan dengan baik.[14]
Adanya masalah-masalah sarana pendidikan berupa sarana penunjang pendidikan kurang memadai disebabkan karena pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/ kota lebih banyak mengalokasikan sebagian anggaran untuk post-post lain atau Departemen lain, sementara biaya pendidikan yang dianggarakan sebesar 20 % hanya sebatas peraturan yang selama ini belum terealisasi”. Sehingga hal ini mengakibatkan pengadaan media pembelajaran sangat sulit untuk pengadaannya karena sumber dana yang dialokasikan untuk sekolah-sekolah masih belum bisa difungsikan dengan semestinya.[15]

1)      Promblematika Pemanfaatan Media Pembelajaran dalam Proses Pembelajaran.
            Pemanfaatan danproblematika itu sendiri, kata pemanfaatan  berasal dari kata dasar manfaat yang artinya guna, faedah dan laba/untung. Sedangkan pemanfaatan berarti proses, cara, perbuatan memanfaatkan.[16]Sehinggaapabila dikaitkan dengan media pembelajaran  pengertian pemanfaatan media pembelajaran adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber belajar.[17]
            Kesimpulannya bahwa pemanfaatan media yaitu penggunaan secara sistematis dari sumber belajar. Proses pemanfaatan media merupakan proses pengambilan keputusan berdasarkan pada spesifikasi pembelajaran dan dilakukan secara terencana dan terarah atau pemanfaatan media pembelajaran merupakan usaha menggerakkan alat, bahan atau sarana sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan dengan maksimal dan berusaha untuk menggunakan dengan teliti dalam mencapai tujuan pendidikan.
 Sedangkan  kata problematika berasal dari kata problem yang berarti masalah atau persoalan, danjuga berakar kata dari kata problematik yang berarti permasalahan; hal yang menimbulkan masalah, hal yang belum dapat dipecahkan.[18] Sehingga penulis dapat menyimpulkan bahwa problematika adalah merupakan suatu masalah yang ada pada diri manusia yakni dapat berupa cobaan maupun rintangan.
Problematika yang berkaitan dengan media pembelajaran itu menyangkut 5 W 1 H, yaitu:
1)      Probelamatika Who (siapa), menyangkut pendidik dan anak didik dalam meanfaatkan media pembelajaran.
2)      Problematika Why (mengapa), menyangkut pelaksanaan pemanfaatan media pembelajaran.
3)      Problematika Where (di mana), menyangkut tempat pemanfaatan media  pembelajaran, di sekolah atau lingkuangan luar sekolah.
4)      Problematika When (bilamana/kapan), menyangkut pengaturan waktu dalam pelaksanaan pemanfaatan media pembelajaran, juga menyangkut usia peserta didik dalam menentukan pemilihan media.
5)       Problematika What (apa), menyangkut dasar, tujuan dan bahan/materi media pembelajaran itu sendiri.
6)      Problematika How (bagaimana), menyangkut cara/metode yang digunakan dalam proses pemanfaatan media pembelajaran, berhubung peserta didik mempunyai sifat dan bakat yang berbeda-beda dalam proses pembelajaran.[19]
7)      Solusi-solusi untuk Memecahkan Problematika Pemanfaatan Media Pembelajaran Dalam Proses Pembelajaran.
8)      Melakukan pelatihan kepada Pendidik dan Meningkatan Manajemen dalam Pemanfaatan Media Pembelajaran.
Meningkatkan kualitas dan kecakapan guru dalam memanfaatkan media pembelajaran, selain juga membentuk  sistem mental bagi semua guru untuk memanfaatkan media pembelajaran secara profesioanal dan sadar. Yang terpenting menurut penulis adalah membentuk mindset berfikir untuk secara sada rmenggunakan media pembelajaran dalam mengajar, setelah itu baru mengadakan pelatihan pemanfaatan media pembelajaran. Fungsi pelatihan adalah membantu pendidik dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam memproduksi dan mengembangkan media pembelajaran . Karena kesadaran untuk memanfaatkan media jauh lebih penting daripada pelatihan memanfaatkan media tertentu, apa faedahnya jika guru mahir memanfaatkan media tetapi tetap malas menggunakannya atau memanfaatkan media hanya untuk menggantikan posisi kehadirannya. Pelatihan  bisa dilakukan dengan membentuk sebuah forum nonformal yang mengundang ahli media pembelajaran.
Manajemen berasal dari bahasa Inggris, yaitu Management yang artinya kepemimpinan, proses pengaturan, pemimpin dan menjamin kelancaran jalannya pekerjaan dalam mencapai tujuan dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Organisasi apapun, senantiasa membutuhkan manajemen yang baik. Di lembaga sekolah, manajemen yang dilaksanakan harus bersifat sosial dan memperhatikan factor psikologis, karena yang dihadapi adalah sejumlah individu yang terdiri dari latar belakang berbeda, baik ditinjau dari latar belakang sosial, latar belakang ekonomi, dan latar belakang agama.
Bentuk manajeman pengelolaan media pembelajaran (terutama media modern atau media yang jumlahnya terbatas di sekolah) dapat dilakukan dengan membuat daftar jumlah media pembelajaran yang tersedia di sekolah, membuat jadwal pengguna media pembelajaran, membentuk tim pengelola pemeliharaan media, dan membuat catatan-catatan lain yang relevan untuk manajeman pengelolaan media pembelajaran.

1)      Mengkomunikasikan Rencana Pemanfaatan Media Pembelajaran kepada Peserta Didik.
Ujung tombak dari kesuksesan pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Maka mengkomunikasikan rencana pemanfaatan media tertentu kepada peserta didik sangat penting. Karena pada hakikatnya tujuan pemanfaatan media adalah untuk memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran sebagai subjek pembelajaran. Bukan semata hanya untuk memudahkan guru dalam mengajar. Serta terdapat kecenderungan pada siswa untuk menyukai atau tidak menyukai pada media pembelajaran tertentu sangat mungkin terjadi.
Setidak-tidaknya ada dua alasan mengapa dinilai penting mengkomunikasikan rencana pemanfaatan media pembelajaran kepada peserta didik adalah agar peserta didik dapat mempersiapkan dirinya untuk memanfaatkan media pembelajaran (a) dengan mempelajari materi pelajaran yang akan disajikan melalui media pembelajaran dan mempersiapkan fasilitas yang diperlukan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran melalui media tersebut. Dari sisi guru sendiri, ada tuntutan agar guru lebih mempersiapkan dirinya mengenai materi pelajaran yang akan dibahas serta mempersiapkan fasilitas yang dibutuhkan (dalam kondisi baik) agar tidak menjadi hambatan sewaktu pemanfaatan media pembelajaran dilaksanakan, dan mempersiapkan setting tempat/lokasi yang akan menjadi tempat pemanfaatan media pembelajaran.[20]



2)      Mengkomunikasikan Rencana Pemanfaatan Media Pembelajaran (Khususnya Media Modern) kepada Pengelola Fasilitas Media Pembelajaran Modern Sekolah.
Tidak adanya komunikasi tentang rencana pemanfaatan media kepada pengelola fasilitas media dapat mengakibatkan terganggunya pelaksanaan pemanfaatan media pembelajaran atau lebih fatal lagi adalah tertundanya rencana pelaksanaan pemanfaatan media pembelajaran modern untuk kepentingan pembelajaran. Komunikasi dengan pengelola fasilitas media pembelajaran modern ini akan menuntut aktivitas pengelola untuk memeriksa berbagai fasilitas media pembelajaran modern yang dibutuhkan guru sehingga pada saat pelaksanaan pemanfaatan, semua fasilitas media pembelajaran modern yang dibutuhkan guru dalam keadaan siap dan baik.[21]Apalagi untuk guru yang telah pegawai negeri diwajibkan mengajar selama 18 jam per minggu dan guru yang telah mendapat sertifikasi diwajibkan mengajar selama 24 jam per minggunya. Hal inilah yang menyebabkan minimnya waktu guru untuk mempersiapkan dan memastikan media pembelajaran keadaan baik khsusunya media modern, maka perlulah para pengelola khusus untuk menangani permasalahan dan kerusakan yang terjadi pada media dan hal ini tidak menutup kemungkinan untuk media-media yang tidak modern.




BAB III
KSIMPULAN
1.      Pengembangan sumber dan media pembelajaran adalah suatu usaha penyusunan program media pembelajaran yang lebih tertuju pada perencanaan media.
2.      Penulis mengemukakan dari beberapa pengertian para ahli dan pengertian secara bahasa bahwa pengertian dari pengemabngan sumber dan media pembelajaran adalah: suatu usaha peningkatan penyusunan atau perencanaan program media pembelajaran yang digunakan sebagai pendukung proses belajar dan mengajar agar pesan yang akan disampaikan dapat diterima oleh peserta didik dengan baik, lebih efektif dan efisien.
1)      Dengan menggunakan  media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik. Didalam  hal ini media pendidikan berguna untuk:
a)      Menimbulkan kegairahan belajar
b)      Memungkinkan interaksi yang lebih langusung antara peserta didik dengan lingkungan dan kenyataan.
c)      Memungkinkan peserta didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya
3.      Teknik Penggunaan Media Pembelajaran
a.       Penggunaan Media Berdasarkan Tempat
1)      Penggunaan Media di Kelas
2)      Penggunaan Media di Luar Kelas
b.      Dalam penggunaan media pembelajaran, media dapat digunakan secara kelompok atau secara individu, tegantung pada kegunaannya


4.      Landasan Filosofis pengembangan sumber dan media pembelajaran yaitu penggunaan media semestinya didasarkan pada nilai kebenaran yang telah ditemukan dan disepakati banyak orang baik kebenaran akademik maupun kebenaran sosial.
5.      Problematika yang berkaitan dengan media pembelajaran itu menyangkut 5 W 1 H, yaitu:
1)      Probelamatika Who (siapa), menyangkut pendidik dan anak didik dalam meanfaatkan media pembelajaran.
2)       Problematika Why (mengapa), menyangkut pelaksanaan pemanfaatan media pembelajaran.
3)      Problematika Where (di mana), menyangkut tempat pemanfaatan media  pembelajaran, di sekolah atau lingkuangan luar sekolah.
4)      Problematika When (bilamana/kapan), menyangkut pengaturan waktu dalam pelaksanaan pemanfaatan media pembelajaran, juga menyangkut usia peserta didik dalam menentukan pemilihan media.
5)       Problematika What (apa), menyangkut dasar, tujuan dan bahan/materi media pembelajaran itu sendiri.
6)      Problematika How (bagaimana), menyangkut cara/metode yang digunakan dalam proses pemanfaatan media pembelajaran, berhubung peserta didik mempunyai sifat dan bakat yang berbeda-beda dalam proses pembelajaran.[22]







[1] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012, hlm. 1.
[2] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, PT RajaGrafindo Persada, 2002, hlm.3.
[3] Rudi Susilana dan Cepi Riyana, Media Pembelajaran(Hakikat, pengembangan, pemanfaatan, dan penilaian), CV Wacana Prima, 2008, hlm. 5.
[4] Ibid. hlm. 6.
[5] Asnawir dan M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, Ciputat Press, 2002. Hlm.135.
[6] Arief. S. Sadiman, dkk, Media Pendidikan(pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya), PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, 1996, hlm. 16.
[7] Rudi Susilana, opcit. Hlm. 174.
[8] Asnawir, opcit. Hlm.125-126.
[9] Rudi Susilana, opcit. hlm. 175-179
[10]Musfiqon, Pengembangan Media &SumberPembelajaran, (2011), hal. 57-58.
[11]Puspitarini, Dwi, Media pembelajaran, (Jember: STAIN Jember Press, 2013),  hal.19.
[12]Bruner, Jerome.s(Cambridge:Harvard University,1966), hal. 10-11.

[13]Thomas Wibowo Agung Sutijono, Pendayagunaan Media Pembelajaran, (Jurnal Pendidikan Penabur - No.04 / Th.IV / Juli 2005), dalam http://pendayagunaan-media-pembelajaran.html. diakses 25 Februari 2017, 19.30 WIB.

[15]http://Sumberilmu.info/wp-content/uploads.   Diakses 25 Februari 2017, 19.45 WIB.
[16]Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), hal. 555.
[17]Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran, 37.
[18]Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar, 701.
.
[20]Sudirman Siahaan, ”Tips bagi Guru dalam Memanfaatkan Media Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Pembelajaran”, http://smk1-lubuksikaping.co.cc/index.php?id=41, 15 September 2008, diakses tanggal 25 Februari 2017 ,20.00 WIB
[21]Siahaan, ”Tips bagi Guru”, diakses tanggal 12 Agustus 2009, pukul 19.44 WIB
.

Popular posts from this blog

Impian-2

Manajemen Keuangan Generasi Milenial

Proses Terbaik untukmu