PENILAIAN TEST DAN NON TEST
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Penilaian merupakan suatu proses yang sistematis dan berkesinambungan
untuk mengumpulkan informasi tentang keberhasilan belajar peserta didik dan
bermanfaat untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Istilah alat penilaian,
alat yang dipakai untuk mendapatkan infromasi tentang peserta didik, walau hal
itu belum dibicarakan secara khusus. Setiap kali kita akan melakukan kegiatan
kependidikan seperti misalnya kegiatan pembelajaran, kita akan memerlukan alat
yang harus dipakai agar kegiatan itu dapat berlangsung seperti yang
direncanakan. Kegiatan penilaian juga memerlukan alat, yaitu yang dikenal
sebagai alat penilaian.
Secara garis besar, alat penilaian dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu tes dan nontes. Baik teknik tes maupun nontes, keduanya dapat
dipergunakan untuk mendapatkan informasi atau data-data penilaian tentang
subjek belajar yang dinilai secara berhasil guna jika dipakai secara tepat.
Artinya, kita harus dapat menentukan kapan memergunakan alat tes dan kapan
nontes, termasuk memilih bentuk tes yang mana dan juga bentuk nontes yang mana.
Pemilihan secara tepat terhadap kedua jenis alat tersebut tidak dapat
dipisahkan dari tujuan penilaian itu sendiri dan jenis informasi yang
idharapkan. Pernyataan itu kiranya dapat meluruskan asosiasi yang sering
keliru, yaitu bahwa setiap kali orang menyebut alat penilaian yang terlintas
dibenak hanyalah tes saja.[1]
Kedua jenis alat penilaian yang dimaksud dibawah ini akan dibicarakan
disertai dengan contoh secukupnya. Sebenarnya, jenis-jenis alat penilaian ini
juga berlaku untuk mengumpulkan infromasi tentang peserta didik untuk berbagai
mata pelajaran dan tidak hanya untuk mata pelajaran kebahasaan dan kesastraan
saja. Dalam kondisi tertentu memang ada alat yang khas penerapannya untuk
kebahasaan. Misalnya, teknik nontes wawancara yang lazimnya dipakai untuk
mengungkap identitas, latar belakang, atau informasi lain yang dibutuhkan
tentang peserta didik, dalam pembelajaran bahasa dapat menjadi ujian lisan yang
dimaksudkan untuk mengukur kompetensi berbahasa.
2.
Rumusan Masalah
1)
Apa pengertian dari
pengembangan penilaian?
2)
Bagaimana penilaian secara
Test?
3)
Bagaimana penilaian secara
Non-Test?
3.
Tujuan
1)
Mengetahui pengertian dari
pengembangan penilaian.
2)
Mengetahui penilaian secara Test.
3)
Mengetahui penilaian secara
Non-Test.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Pengembangan Penilaian
Secara umum penilaian atau usaha menentukan
nilai ialah membandingkan objek yang di nilai dengan keriteria tertentu yang
telah di milikidan
difahami oleh penilai. Seperti
halnya seseorang membeli buah jeruk dan sebelum menawar dia mencoba merasakan
jeruk tersebut, tanpa di sadari pembeli
sudah melakukan penilaian. Dia akan
menilai buah jeruk tersebut manis asam ataukah segar.
Dalam pembelajaran , penilaian tidak dapat
dilaksanakan secara subjektif . Tuntutan pertama yang harus di penuhi dalam penilaian hasil belajar
adalah keobjektifn dan keadilan. yang di maksud keobjektifan saat menilai harus
ada kriteria penilaian. Artinya jika seorang guru menetapkan kriteria
"pandai" bagi seorang siswa, guru yang lain secara objektif menyetujui keriteria tersebut. Bandingkan jika penilaian subjektif wanita itu cantik. Belum tentu orang lain sependapat dengan anda karena tidak ada
kriteria. Dan penilaian selain bersifat objektif juga bersifat adil. Adil dalam artinya memperlakukan semua sama menilai semua sama, tanpa
ada pengaruh dari apapun tidak memandang dia pejabat atau pemulung jika menilai
.[2]
1) Kriteria Penilaian
Pada umumnya penilaian ada 2 macam penilain
yaitu penilaian ekstern dan intern. Penilaian intern adalah kemampuan atau kualitas yang dimiliki seseorang
contohnya dia orang yang jago berdebat di
kelas. Di situ kita menilai kemampuan seseorang. Dan jika kita membandingkan dengan
orang lain kualitas dan ke jagoannya
dalam berdebat dengan kelas lain . Maka di situ kita dapat membandingkan dan menilai kualitas anak tersebut. Dan ternyata ada yang lebih
hebat dari anak tersebut. Di situ
keunggulan dari penilaian ekstern kita dapat mengetahui sejauh mana kualitas yang di miliki anak tersebut. Sebagai tolak ukur.
2.
Penilaian Secara Test
Komponen evaluasi
sangat penting artinya untuk menilai apakah perencanaan dan proses pembelajaran
berjalan secara optimal atau tidak. Hasil evaluasi dapat memberi petunjuk
kepada kita apakah sasaran yang ingin dituju dapat tecapai atau tidak. Dengan
demikian dapatlah diperoleh umpan balik tentang pembelajaran itu. Berdasarkan
umpan balik dapat dilakukan perbaikan-perbaikan seperlunya. Mengevaluasi
perencanaan pembelajaran sebenarnya bukan hanya semata-mata dilakukan terhadap
salah satu komponen saja, melainkan terhadap seluruh komponen, baik tujuan,
materi, metode, maupun proses evaluasi itu sendiri.[3]
Dalam hal ini
evaluasi dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik dari perbaikan yang
dilakukan, dalam segi pembelajaran yang dilaksanakan para pendidik tehadap
peserta didik. Penilaian terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui bagaimana
perkembangan yang diperoleh siswa dalam proses belajar. dengan adanya penilaian
yang dilaksanakan, maka dapat dikembangkan ataukah diperbaiki agar hasil yang
diperoleh siswa menjadi lebih baik.
Dalam pembahasan
ini tes dijadikan sebagai alat penilaian hasil belajar, dijelaskan secara
khusus alat-alat penilaian hasil belajar, yaitu, tes, baik tes uraian (esai)
maupun tes objektif. Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan
yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk
lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan), atau dalam bentuk perbuatan
(tes tindakan). Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil
belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan
bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Sungguhpun
demikian, dalam batas tertentu tes dapat pula digunakan untuk mengukur atau
menilai hasil belajar bidang afektif dan psikomotoris.
Ada dua jenis tes
yang akan dibahas dalam bab ini, yakni tes uraian atau tes esai dan tes
objektif. Tes uraian dari uraian bebas, uraian terbatas, dan uraian
terstruktur. Sedangkan tes objektif terdiri dari beberapa bentuk, yakni bentuk
pilihan benar-salah, pilihan berganda dengan berbagai variasinya, menjodohkan,
dan isian pendek atau melengkapi. Setiap jenis tes dijelaskan konsep-konsepnya,
jenis atau bentuk-bentuknya, cara penyusunannya, kelebihan dan kekurangannya,
pemeriksaan dan cara skoringnya, tremasuk contoh-contohnya.
1)
Tes Uraian
Tes uraian, yang dalam literature disebut juga essay examination,
merupakan alat penilaian hasil belajar yang paling tua. Secara umum tes uraian
ini adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan,
menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lain
yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan
bahsa sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini dituntut kemampuan siswa dalam
hal mengekspresikan gagasannya melalui bahasa tulisan. Dalam hal inilah
kekuatan atau kelebihan tes esai dari alat penilaian lainnya. Sungguh pun
demikian, sejak tahun 1960-an bentuk tes ini banyak ditinggalkan orang karena
munculnya bentuk tes obejektif. Bahkan sampai saat ini tes objektif sangat
populer dan digunakan oleh ha,pir semua guru mulai di tingkat SD sampai
perguruan tinggi. Ada semacam kecenderungan di kalangan para pendidik dan guru
unutk kembali menggunakan tes uraian sebagai alat penilaian hasil belajar,
terutama di perguruan tinggi.[4]
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kelebihan atau keunggulan tes
uraian ini antara lain adalah:
(1)
Dapat mengukur proses mental
yang tinggi atau aspek kognitif tingkat tinggi;
(2)
Dapat mengembangkan
kemampuan berbahasa, baik lisan maupun tulisan, dengan baik dan benar sesuai
dengan kaidah-kaidah bahasa;
(3)
Dapat melatih kemampuan
berfikir teratur atau penalaran, yakni berfikir logis, analitis, dan
sistematis;
(4)
Mengembangkan keterampilan
pemecahan masalah (problem solving);
(5)
Adanya keuntungan teknis
seperti mudah membuat soalnya sehingga tanpa memakan waktu yang lama, guru
dapat secara langsung melihat proses berfikir siswa.
Di lain pihak
kelemahan atau kekurangan yang terdapat dalam tes ini antara lain:
(1)
Sampel tes sangat tebatas
sebab dengan tes ini tidak mungkin dapat menguji semua bahan yang telah
diberikan, tidak seperti pada tes objektif yang dapat menanyakan banyak hal melalui
sejumlah pertanyaan;
(2)
Sifatnya sangat subjektif,
baik dalam menanyakan, dalam membuat pertanyaan, maupun dalam cara
memeriksanya. Guru bisa saja bertanya tentang hal-hal yang menarik baginya, dan
jawabannya juga berdasarkan apa yang dikehendakinya;
(3)
Tes ini biasanya kurang
realibel, mengungkap aspek yang terbatas, pemeriksaannya memerlukan waktu lama
sehingga tidak praktis bagi kelas yang jumlah siswanya relative besar.[5]
a.
Jenis-jenis tes Uraian
Bentuk tes
dibedakan menjadi 3 yaitu :
(a)
Uraian bebas (free essay)
Dalam uraian
bebas jawaban siswa tidak dibatasi, bergantung pada pandangan siswa itu
sendiri. Hal ini disebabkan oleh isi pertanyaan uraian bebas isftanya umum.
Contoh pertanyaan bentuk uraian bebas adalah sebagai berikut:
·
Coba saudara jelaskan sebab-sebab
terjadinya pertumbuhan penduduk yang cepat!
·
Apa yang saudara ketahui
tentang PBB?
·
Mengapa pertumbuhan penduduk
berpengaruh terhadap kualitas hidup manusia?
Apabila dilihat
dari segi pertanyaan diatas, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas merupakan
suatu pendapat yang diberikan oleh siswa tehadap soal tersebut, maka gurupun
bebas menilai jawaban siswa, mana jawaban yang dianggapnya benar, kurang benar
atau kurang lengkapa atau bahkan salah sama sekali.
Melihat
karakteristiknya, pertanyaan bentuk uraian bebas ini tepat digunakan apabila
bertujuan untuk:
1)
Mengungkapkan pandangan para
siswa tehadap suatu masalah sehingga dapat diketahui luas dan intesitasnya.
2)
Mengupas suatu persoalan
yang kemungkinan jawabannya beraneka ragam sehingga tidak ada satupun jawaban
yang pasti.
3)
Mengembangkan daya analisis
siswa dalam melihat suatu persoalan dari berbagai segi atau dimensinya.
Kelemahan tes ini
ialah sukar menilainya karena jawaban siswa bisa bervariasi, sulit menentukan
criteria penilaian, sangat subjektif karena bergantung pada guru sebagai
penilainya.
(b)
Uraian tebatas
Dalam bentuk ini
pertanyaan telah diarahkan kepada hal-hal tertentu atau ada batasan tertentu.
Pembatasan bisa dari segi ruang lingkup, sudut pandang menjawabnya,
indicator-indikatornya. Perhatikan contoh pertanyaan uraian tebatas berikut
ini.
·
Coba saudara jelaskan tiga faktor
penyebab pertumbuhan penduduk!
·
Apa makna PBB ditinjau dari
aspek jumlah anak dalam suatu keluarga?
·
Bagaimana hubungan
pertumbuhan penduduk dengan kualitas hidup manusia dalam hal ekonomi,
pendidikan, dan kesehatan?
Dalam pertanyaan
tesebut telah diberi pada batasan yang diinginkan, jadi ruang lingkupnya lebih
mudah dalam penilaian, criteria kebenaran jawaban bisa lebih mudah ditentukan,
oleh sebab itu, bentuk soal uraian tebatas lebih terarah dan lebih tepat
digunakan dariapada bentuk uraian bebas.
(c)
Uraian berstruktur
Soal berstruktur
dipandang sebagai bentuk antara soal-soal objektif dan soal-soal esai. Soal
berstruktur merupakan serangkaian soal jawaban singkat sekalipun bersifat
terbuka dan bebas jawabannya. Soal yang berstruktur berisi unsure-unsur (a)
pengantar soal, (b) seperangkat kata (c) serangkaian sub soal. Perhatikan
contoh soal dibawah ini.
Di bawah ini
tecantum daftar nilai hasil ujian matematika siswa kelas dua SMA. Nilai
tersebut telah diurutkan dari skor tertinggi sampai teendah disertai keterangan
berapa jumlah siswa yang mencapainya, baik untuk setiap nilai maupun secara
kumulatif.
Nilai
|
Jumlah
Siswa
|
Kumulatif
|
|||
32
|
1
|
1
|
|||
31
|
2
|
3
|
|||
30
|
2
|
5
|
|||
29
|
2
|
7
|
|||
28
|
1
|
8
|
|||
27
|
2
|
10
|
|||
Dari data diatas:
a)
Hitunglah berapa rata-rata
dan berapa median.
b)
Hitunglah berapa orang siswa
yang nilainya temasuk ke dalam kelompok 28-31, 30—32.
c)
Hitung pula berapa simpangan
bakunya.
Keuntungan soal
bentuk berstruktur antara lain ialah dapat dikategorikan sesuai dengan nilai
soal itu, dan dapat mencakup ebberapa ranah dalam satu soal. Data yang dipaparkan
bisa berupa angka, grafik. Table, gambar, bagan, diagram, model dll. Bentuk
soal berstruktur dapat digunakan untuk mengukur semua evaluasi. Dengan demikian
bentuk ini dapat mengungkapkan banyak aspek yang diinginkan. Kelemahan ynang
mungkin terjadi berkisar pada bidang yang diujikan menjadi tebatas dan kurang
praktis sebab satu permasalahan harus dirumuskan dalam pemaparan yang lengkap
disertai data yang memadai.[6]
b.
Menyusun Soal Bentuk Uraian
Agar diperoleh
soal-soal bentuk uraian yang dikatakan memadai sebagai alat penilaian hasil
belajar, hendaknya diperhatikan hal-hal berikut ini:
1)
Dari segi isi yang diukur
Segi yang hendak
diukur hendaknya ditentukan secara jelas abilitasnya, misalnya pemahaman
konsep, aplikasi suatu konsep, analisis suatu permasalahan, dan aspek kognitif
lainnya. Dengan kejelasan apa yang akan diungkapkan maka soal atau pertanyaan
yang dibuat hendaknya mengungkapkan kemampuan siswa dalam abilitasnya.
2)
Dari segi bahasa
Gunakan bahasa yang baik dan benar sehingga
mudah diketahui makna yang terkandung dalam urusan pertanyaan. Bahasanya
sederhana, singkat, tetapi jelas apa yang idtanyakan. Hindari bahasa yang
berbelit-belit, membingungkan, atau mengecoh siswa.
3)
Dari segi teknis penyajian
soal
Hendaknya jangan mengulang-ulang pertanyaan
tehadap materi yang sama meskipun untuk abilitas yang berbeda sehingga soal
atau pertanyaan yang diajukan lebih komprehensif daripada segi lingkup
materinya. Perhatikan waktu yang tersedia untuk mnegerjakan soal tersebut
sehingga soal tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Bobot penilaian unutk
setiap soal hendaknya dibedakan menurut tingkat kesulitan soal. Soal-soal yang
tergolong sulit diberi bobot yang lebih besar. Tingkat kesulitan soal dilihat
dari sifat materinya dan abilitas yang diukurnya. Abilitas analisis lebih sulit
daripada aplikasi dan pemahaman demikian juga sintesis lebih sulit daripada
analisis. Sedangkan dari aspek materi, konsep lebih sulit daripada fakta.
4)
Dari segi jawaban
Setiap pertanyaan yang hendak diajukan hendak
diajukan sebaiknya telah idtentukan jawaban yang diharapkan, minimal
pokok-pokoknya. Tentukan pula besarnya skor maksimal untuk setiap sola yang
dijawab benar dan skor minimal bila jawaban salah atau kurang memadai. Jangan sekali-kali mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya belum pasti atau guru sendiri tidak tahu
jawabnnya, atau mnegharapkan kebenaran jawaban tersebut diperoleh dari siswa.
c.
Pemeriksaan, Skoring, dan Penilaian Tes
Uraian
Memeriksa jawaban soal-soal uraian tidak
semudah tes objektif sekalipun telah ada kunci jawabannya. Setiap jawaban soal
uraian harus dibaca seluruhnya sebelum diberi skor sesuai dengan criteria yang
telah ditentukan.
Ada dua cara pemeriksaan jawaban soal uraian.
Cara pertama ialah diperiksa seseorang demi seorang untuk semua soal, kemudian
diberi skor. Cara kedua ialah diperiksa nomor demi nomor untuk semua siswa.
Artinya diperiksa terlebih dahulu nomor saty untuk smeua siswa, kemudia diberi
skor, dan setelah selesai baru soal nomor dua, dst. Cara kedua memang memakan
waktu lama, tetapi akan lebih objektif sebab jawaban setiap nomor untuk setiap
siswa dapat diketahui dan dibandingkan. Cara kedua lebih baik daripada cara
pertama, namun risikonya cukup berat bagi guru, apalagi jika jumlah siswa cukup
banyak. Memeriksa jawaban soal uraian jangan dipaksakan selesai pada saat itu,
tetapi lakukan secara bertahap. Hal ini penting untuk mencegah kelelahan
sehingga pemeriksaan tidak objektif lagi. Guru harus sabar dalam memriksa
jawaban siswa, tidak emosional, lebih-lebih bila menghadapi tulisan siswa yang
tidak dapat dibaca, bahsa yang berbelit-belit, sistematika berfikirnya yang
tidak teratur dan lain-lain.
2)
Tes Objektif
Soal-soal bentuk
objektif banyak digunakan dalam menilai hasil belajar. hal ini disebabkan
antara lain oleh luasnya bahan pelajaran yang dapat dicakup dalam tes dan
mudahnya menilai jawaban yang diberikan.[7]
Soal-soal bentuk
objektif ini dikenal ada beberapa bentuk, yakni jawaban singkat, benar-salah,
menjodohkan, dan pilihan ganda. Kecuali bentuk jawaban singkat, dalam soal-soal
bentuk objektif telah tersedia kemungkinan-kemungkinan jawaban (options) yang
dapat dipilih.
a.
Bentuk Soal Jawaban Singkat
Bentuk soal jawaban singkat merupakan soal
yang menghendaki jawaban dalam bentuk kata, bilangan, kalimat, atau symbol dan
jawabannya hanya dapat dinilai benar atau salah. Ada dua bentuk soal jawaban
singkat, yaitu bentuk pertanyaan langsung dan bentuk pertanyaan tidak lengkap.
Contoh :
·
Berapakah luas daerah
segitiga yang panjang alasnya 8 cm dan tingginya 6 cm?
·
Luas daerah segitiga yang
panjang alasnya 8 cm dan tingginya 6 cm adalah…
Tes bentuk soal
jawaban singkat cocok untuk mengukur pengetahuan yang berhubungan dengan
istilah terminology, fakta, prinsip, metode, prosedur, dan
penafsiran-penafsiran data yang sederhana.
b.
Bentuk Soal Benar-Salah
Bentuk soal benar-salah adalah bentuk tes yang
soal-soalnya berupa pernyataan. Sebagian dari pernyataan itu merupakan
pernyataan yang benar dan sebagian lagi merupakan pernyataan yang salah. Pada
umumnya bentuk soal benar-salah dapat dipakai untuk mengukur pengetahuan siswa
tentang fakta, definisi, dan prinsip.
Contoh :
(B)- S 1. Danau Toba terletah di Sumatra
Utara.
(B)- S 2. Nitrogen membantu pembakaran.
B – (S)
3. Berat satu liter air adalah 100 gram.
c.
Bentuk Soal Menjodohkan
Bentuk soal menjodohkan terdiri atas dua
kelompok pernyataan yang parallel. Kedua kelompok pernyataan ini berada dalam
satu kesatuan. Kelompok sebelah kiri merupakan bagian yang berisi soal-soal
yang harus dicari jawabannya. Dalam bentuk yang paling sederhana, jumlah soal
sama dengan jumlah jawabannya, tetap sebaiknya jumlah jawaban yang disediakan
dibuat lebih banyak daripada soalnya karena hal ini akan mengurangi kemungkinan
siswa menjawab yang betul dengan hanya menebak.
Contoh :
Kelompok A
|
Kelompok B
|
b 1.
Kekurangan vitamin C
f 2.
Kekurangan vit B kompleks
e 3.
Kekurangan vitamin B1
a 4.
Kekurangan vitamin A
d 5.
Kekurangan vitamin D
|
a.
Penyakit rabun ayam
b.
Sariawan
c.
Penyakit gondok
d.
Penyakit rakhitis
e.
Penyakit beri-beri
f.
Pertumbuhan badan lmbat
|
d.
Bentuk Soal Pilihan Ganda
Soal pilihan ganda adalah bentuk tes yang
mempunyai satu jawaban yang benar dan paling tepat. Dilihat dari strukturnya,
bentuk soal pilihan ganda terdiri atas:
ü
Stem : pertanyaan atau
pernyataan yang berisi permasalahan yang akan dinyatakan.
ü
Option : sejumlah pilihan
atau alternative jawaban
ü
Kunci : jawaban yang benar
atau paling tepat
ü
Distractor : jawaban-jawaban
lain selain kunci jawaban
Contoh :
Mahkamah
Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa berkedudukan di kota…….(stem)
a.
Jenewa (kunci)
b.
Den Haag (distractor)
c.
London (distractor) Option
d.
New York (distractor)
e.
Tes Lisan
Tes lisan adalah tes yang perintah,
pertanyaan, dan jawabannya dilakukan secara lisan. Jadi, baik guru yang member perintah
atau perntanyaan maupun peserta didik yang mejawabnya dilakukan secara lisan.
Dalam pembelajaran bahasa tes lisan dapat sekaligus dilakukan untuk mengukur
kompetensi berbahasa lisan, misalnya dalam ujian skripsi mahasiswa. Tes lisan
dapat juga berupa untuk mengukur kompetensi berfikir proses, kognitif tingkat
tinggi, walau yang lebih banyak biasanya mengukur kemampuan hafalan dan
pemahaman.[8]
Tes lisan paling tidak dapat dibedakan kedalam
tes lisan dikelas dan ujian lisan. Tes lisan dikelas dimaksudkan sebagai tes
yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran. Jadi, ia bagian dari
memeroleh umpan balik. Bentuk tes mungkin berupa kuis, pertanyaan singkat, atau
menjawab latihanyang sengaja diberikan, misalnya untuk mengulang kembali bahan
ajar yang telah disampaikan yang pada umumnya lebih berkaitan dengan kompetensi
kognitif. Pertanyaan lisan yang demikian pada umumnya juga terkait dengan
tujuan memberikan penguatan terhadap apa yang telah dimiliki peserat didik.
Ujian lisan dapat berupa tes formatif, ulangan
harian, atau bahkan mungkin tes sumatif. Ujian ini biasanya dilakukan secara
individual, seorang demi seorang peserta didik hingga seluruh peserta didik
mendapat bagian. Uijan lisan yang demikian akan membutuhkan waktu yang lama dan
tenaga yang lebih banyak, maka penyelenggaraannya harus juga memertimbangkan
hal-hal tersebut. Jika tidak mempunyai waktu yang cukup, ujian lsian sebaiknya
bukan merupakan pilihan pertama yang dilakukan. Bentuk nontes yang berupa
wawancara dalam kondisi tertentu juga dapat dipandang sebagai tes lisan. Hal
ini jika wawncara dimaksudkan untuk mengukur kompetensi berbahasa lisan
pembelajaran yang diwawancarai.
f.
Tes Kinerja
Tes kinerja, unjuk kerja, perbuatan, atau
performansi tidak berbeda pengertiannya
dengan tes psikomotorik sebagaimana dibiacarakan pada bab sebelumnya. Pada
intinya tes kinerja adalah tes atau tugas yang menuntut pelibatan aktivitas
motorik dalam meresponnya. Untuk mata pelajaran tertentu yang banyak melibatkan
aktivitas fisik, seperti olahraga, teknik, seni tari, dan seni music kinerja
yang dimaksud lebih konkrit dan jelas dapat diindera. Tes kinerja dapat
disamakan dengan tes praktik, praktik melakukan suatu aktivitas sebagai bukti
capaian hasil belajar.[9]
Tes kinerja atau tugas-tugasn berunjuk kerja
bahasa yang memakai saluran lisan mislanya, wawancara, meceritakan kembali
wacana yang didengar atau dibaca, berbagai jenis membaca berusra seperti
membaca nyaring, membaca indah, membaca puisi, cerpen, drama, berdeklamasi, dan
lain0lain. Di pihka lain, tes atau tugas-tugas kinerja tertulis antara
menuliskan kembali wacana yang didengar atau dibaca, menganalisis teks
kesastraan, menulis bermacam surat, membuta karya ilmiah, dan lain-lain yang
pada umumnya juga tumpang tindih dengan bentuk nontest.
3)
Tujuan Dari Tes
a.
Memperoleh umpan balik
terhadap hasil pembelajaran
b.
Memperbaiki kurikulum dan
program pendidikan
c.
Meningkatkan motivasi siswa
d.
Melaksanakan diagnosis dan
remedial
e.
Melakukan penempatan
f.
Melakukan seleksi
g.
Mengembangkan khazanah ilmu
pengetahuan[10]
4)
Kriteria Test yang Baik
Pada
umumnya tes yang baik memiliki kriteria sebagai berikut.[11]
1.
Sesuai tujuan belajar
Karena digunakan untuk mengukur pencapaian tujuan belajar siswa,
makates yanh baik harus sesuai dengan tujuan belajar.
2.
Mnggunakan bahasa yang baik dan benar
Bahasa tes
hendaknya mudah dimengerti dan menggunakan aturan yang benar. Bahasa yang
dipakai hendaknya bahasa guru dan bukan bahasa buku, sehingga sesuai dengan
kemaapuan berbahasa siswa.
3.
Tingkat kesukaran masing-masing soal baik
Tes yang baik tidak terlalu sukar dan juga tidak terlalu mudah.
Untuk tes standar tingkat kesukaran yang baik berkisar antara 40%-60%,
sedangkan untuk tes buatan guru kriteria tersebut dapat dibuat antara
25&-75%. Tes yang terlalu sukar atau memiliki tingkat keaungkaran 100%
dapat dilihat dari ketidakmampuan seluruh siswa menjawab. Sebaliknya, tes yang
terlalu mudah atu tingkat kesukarannya 0% dapat dilihat dari kemampuaa seluruh
siswa, yakni semua jawaban benar. Kedua jenis tes semacam ini harus direvisi
karena tidak mampu mengukur hasil belajar yang dikehendaki.
4.
Daya beda masing-masing soal baik
Tes yang baik memiliki kemampuan membedakan kelompok siswa mana
yang tergolong pandai dan yang kurang pandai. Apabila hal ini tidak dimiliki,
tes harus diubah.
5.
Valid
Tes yang baik yakni yang sahih/benar dan tingkat kesahihan dapat
dilihat pada kriteria berikut:
a)
Validitas raut muka (face valididity)
Suatu tes dianggap meeiliki validitas raut mua apabila item-item
tes (nomor-nomor tes) secara keseluruhan menggambarkan secara benar bahan
pelajaran yang akan ujikan. Misalnya, apabila bahan pelajaran yang akan
diujikan letak geografis suatu wilayah, secara umum hal-hal yang dipersoalkan
tentang letak suatu wilayah.
b)
Validitas kurikuler (curricular validity)
Suatu tes dianggap memiliki validitas kurikuler apabila hal-hal
yang dipersoalkan dalam tes sesuai dengan makna tujuan kurikuler. Sekarang
sesuaa dengan KD dan indikator. Oleh karena itu, apabila ingin mengetahui
validitas ini penyusun tes harus membaca dan menganalisis apakah tes yang
dibuat sesuai dengan KD dan indikator atau diperkirakan akan mengukur tujuan.
c)
Validitas isi (content validity)
Suatu tes dianggap valid jika isinya sesuai dan jelas dapat
mengukur tujuan belajar.
d)
Validitas konsep (concept validity)
Suatu tes dianggap valid jika konsep-konsep yang digunakan sudah
benar atau tidak ada yang salah konsep.
e)
Validitas ramalan (predictive validity)
Suatu tes dianggap memiliki validitas ramalan apabila skor hasil
tes dari masing-masing teatee dapat digunakan sebagai dasar untuk meramal
dengan baik keberhasilan atau kemampuan testee melakukan tugas-tugas
berikutnya. Misalnya hasil tes ujian masuk perguruan tinggi, apabila dapat
digunakan untuk meramal dengan tepat bagi mereka yang lulus atau (pada akhirnya
mahasiswa yang diterima sanggup belajar dengan baik dan berhasil di perguruan
tinggi), tes tersebut dapat dinyatakan memiliki validitas ramalan.
f)
Validitas bandingan atau validitas item (item validity)
Siatu tes dianggap memiliki validitas bandingan apabila tes yang
dianalisi berkorelasi dengan tes sejenis yang telah terbukti valid (biasanya
tes standar). Sering ditemui kesulitan mencari tes standar atau tes buatan guru
yang telah dianalisi dan terbukti valid, sehingga analisis validitas bandingan
jarang dilakukan. Sebagai gantinya, tes dapat dianalisis dengan membandingkan
(mengkorelasikan) skor item tes dinyatakan valid apabila skor item berkorelasi
signifikan dengan jumlah skor.
6.
Reliabilitas
Tes yang baik memiliki reliablitas yang baik pula. Konsep
reabilitas atau sering disebut keterendahan (dapat diandalkan atau dapat
dipercaya) mengacu pada konsistensi atau homogenitas. Konsistensi dan
homogenitas ini dapat dilihat dari skor hasil pengukuran yang dilakukan, baik
satj kali pengukuran maupun beberapa kali. Untuk membuktikan apakah suatu tes
reliabel dapat ditempuh melalui beberapa cara, diantaranya:
a)
Tes re-tes
Cara ini dilakukan dengan teknik melancarkan tes kepada testee
minimal dua kali dengan selang waktu yang diperkirakan cukup oleh penguji.
Apabila skor hasil tes tersebut konsisten (dapat dilihat korelasinya), dapat
dinyatakan bahwa tes yang dianalisis reliabel, sebaliknya apabila skor hasil
tes menunjukkan fluktuasi ( atau tidak berkorelasi), tes tersebut tidak
reliabel.
Apabila dengan teknik ini secara administrasi kurang menguntungkan, reliabilitas
dapat dibuktikan dengan teknik lain, terutama untuk mengetahui homogenetis item
tes. Untuk maksud ini dapat digunakan teknik:(1) belah dua dan, (2) analisis
dengan rumus KR20,KR21, dan Hoyt. Teknik belah dua hanya dapat diterapkan pada
tes yang jumlah item secara keseluruhan genap dan bila jumlahnya ganjil harus
dianalisi dengab teknik lain. Karena semua analisis reliabilitas ini memerlukan
kerja dengan statistik, maka contoh hal ini disajikan pada bab lain.
3.
Penilaian Secara Non Test
Jika domain
kognitif (pengetahuan) dapat dievaluasi lewat tes tertulis dan tes lisan,
sementara domain psikomotorik (keterampilan) dapat dievaluasi melalui
terperbuatan maka instrumen evaluasi pembelajaran nontes dapat digunakan untuk
mengevaluasi domainefektif (sikap) peserta didik. Berikut adalah contoh-contoh
instrumen evaluasi jenis nontes.
1)
Observasi.
Observasi
digunakan guru dengan cara mengamati kegiatan peserta didik baik secara
langsung maupun tidak langsung. Alat yang digunakan berupa pedoman observasi.
Jadi, sebelum melakukan observasi guru harus merancang pedoman observasi
terlebih dahulu. Langkah-langkah dalam merangcang pedoman observasi antara lain
sebagai berikut.
a)
Merumuskan tujuan observasi.
b)
Membuat lay-out atau
kisi-kisi observasi.
c)
Menyusun pedoman observasi.
d)
Menyusun aspek-aspek yang akan diobservasi yang berkenaan dengan
proses bejar peserta didik maupun dengan kepribadianya.
e)
Melakukan ujicoba pedoman observasi untuk menemukan
kelemahan-kelemahan pedoman observasi.
f)
Memperbaiki pedoman observasi berdasarkan uji coba.
g)
Melakukan observasi pada saat kegiatan berlangsung.
h)
Mengelola dan menafsirkan hasil obserfasi.[12]
Berikut adalah
contoh pedoman observasi dalam praktik berwudhu.
Nama peserta didik : Rausyni
azzura mernisi
Mata pelajaran : Pendidikan agama
islam
Pokok bahasan : Thaharah/
berwudhu
Kelas/ smester : II/I
Hari tanggal : selasa, 26 maret 2013
Kopetensi dasar :nelakukan wudhu dengan tertip
No
|
Aspek yang
diamati
|
Sekala nilai
|
Ket.
|
||||
A
|
B
|
C
|
D
|
E
|
|||
1
|
Membaca niat berwudhu
|
||||||
2
|
Berkumur-kumur
|
||||||
3
|
Mambasuh
hidung
|
||||||
4
|
Membasuh muka
|
||||||
5
|
Membasuh
tangan
|
||||||
6
|
Membasuh
kepala
|
||||||
7
|
Membasuh
telinga
|
||||||
8
|
Membasuh kaki
|
||||||
9
|
Membaca doa
setelah berwudhu
|
||||||
Kesimpulan :
Saran-saran :
Observi Observer
(...................) (....................)
2)
Wawancara
Teknik
wawancara ini dilakukan dengan cara mengadakan tanya jawab dengan peserta
didik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hampir sama dengan observasi,
alat yang digunakan adalah pedoman wawancara dan sudah tentu pedoman wawancara
tersebutharus mengacuh pada tujuan pembelajaran yang dirumuskan dalam
barbagaikompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.[13]
3)
Skala sikap
Sikap
berhubungan dengan perilaku manusia. Dalam skala sikap ini perilaku peserta
didik dievaluasi melalui kegiatan pengukuran sikap. Salah satu model skala
sikap yang sering digunakan adalah skala likert.
Dalam penggunaanya, peseta didik tidak hanya dapat memilih
peryataan-pertaan yang positif saja, tetapi juga peryataan-peryataan yang
negatif. Biasanya peryataan positif diberi sekor 5,4,3,2,1 sedang peryataan
negatif 1,2,3,4,5. Untuk dapat merancang skala likert, guru dapat mengikuti
langkah-langkah berikut ini.
a.
Memilih berbagai variabel efektif yang akan diukur.
b.
Menetapkan berbagai variabel afektif yang akan diukur sesuai dengan
kompetensi yang hendak dicapai.
c.
Membuat beberapa peryataan tentang variabel afektif yang akan
diukur.
d.
Mengklarifikasikan peryataan positif dan negatif.
e.
Menentukan jumlah gardual dan frase atau angka yang dapat menjadi
alternatif pilihan.
f.
Menyusun pertanyaan dan pilihan jawaban menjadi sebuah alat
penilaian.
g.
Melakukan uji coba.
h.
Membuang butir-butir peryataan yang kurang baik.
i.
Melaksanakan
4)
Daftar Cek
Daftar cek
merupakan suatu daftar yang berisi subjekdan aspek-aspek yang akan diamati.
Penggunaan daftar cek ini memungkinkan guru sebagai evaluator mencatat setiap
aktivitas peserta didik sekala kecil apa pun, tetapi aktivitas tersebut tetap
dianggap penting. Ada berbagai macam aspek perbuatan yang biasanya dicantumkan
dalam daftar cek, kemudian guru tinggal memberikan tanda centang ( ) pada
tiap-tiap aspek tersebut sesuai dengan hasil penilaian. Berikut contoh daftar
cek tentang aktivitas peserta didik dalam diskusi kelompok pada mata pelajaran
pendidikan agama islam:
NO
|
Nama
peserta didik
|
SB
|
B
|
C
|
K
|
SK
|
1
|
Rina
rizki amalia
|
|||||
2
|
Rausy
azzura mernissi
|
|||||
3
|
Ayub
rizki awan
|
|||||
4
|
Kafabillah
|
|||||
5
|
M.
aji kurniawan
|
Keterangan :
SB : Sangat Baik K
: Kurang
B : Baik SK : Sangat Kurang
C : Cukup
5)
Catatan insidental (anecdotal
record)
Catatan
insidental merupakan catatan singkat tentang berbagai peristiwa yang dialami
oleh peserta didik secara perorangan. Catatan ini merupakan pelengkap dalam
penilaian guru terhadap peserta didiknya, terutama yang berkenaan dengan
perilaku peserta didik. Berikut contoh kartu insidental.[14]
Kartu catatan insidental
|
Hari/tanggal/bulan/tahun
: ..........................................
nama
peserta didik : ..........................................
nama
SD/kelas : ..........................................
|
Catatan: ..........................................................................................................................
........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
|
BAB III
KESIMPULAN
1. Pengertian
pengembangan penilaian
Secara umum penilaian atau usaha menentukan
nilai ialah membandingkan objek yang di nilai dengan keriteria tertentu yang
telah di milikidan
difahami oleh penilai.
1)
Kriteria
Penilaian
Pada umumnya penilaian ada 2 macam penilain
yaitu penilaian ekstern dan intern. Penilaian intern adalah kemampuan atau kualitas yang dimiliki seseorang
contohnya dia orang yang jago berdebat di
kelas.
2. Penilaian
secara Test
Tes sebagai alat
penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk
mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk
tulisan (tes tulisan), atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan). Tes pada
umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama
hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai
dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.
Penilaian secara tes dibedakan menjadi 2 yaitu:
1)
Tes uraian
Secara umum tes
uraian ini adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk
menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan
bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan
kata-kata dan bahsa sendiri.Tes uraian terdiri dari :
a.
Jenis-jenis tes uaraian
(uraian bebas, uraian terbatas, dan uraian berstruktur.
b.
Menyusun soal bentuk uraian.
c.
Pemeriksaan , skoring, dan
penilaian tes uraian.
2)
Tes objektif.
Soal-soal bentuk
objektif banyak digunakan dalam menilai hasil belajar. hal ini disebabkan
antara lain oleh luasnya bahan pelajaran yang dapat dicakup dalam tes dan
mudahnya menilai jawaban yang diberikan.
Soal-soal bentuk
objektif ini dikenal ada beberapa bentuk, yakni jawaban singkat, benar-salah,
menjodohkan, dan pilihan ganda. Kecuali bentuk jawaban singkat, dalam soal-soal
bentuk objektif telah tersedia kemungkinan-kemungkinan jawaban (options) yang
dapat dipilih. Tes objektif terdiri dari :
a.
Bentuk soal jawaban singkat
b.
Bentuk soal benar-salah
c.
Bentuk soal menjodohkan
d.
Bentuk soal pilihan ganda
3. Penilaian
secara Non-Test
Evaluasi pembelajaran nontes dapat digunakan untuk mengevaluasi domainefektif
(sikap) peserta didik. Berikut adalah contoh-contoh instrumen evaluasi jenis
nontes. Evaluasi secara non test terdiri dari:
1) Observasi.
Observasi digunakan guru dengan cara mengamati kegiatan peserta
didik baik secara langsung maupun tidak langsung.
2) Wawancara
Teknik wawancara ini dilakukan dengan cara mengadakan tanya jawab
dengan peserta didik.
3) Skala sikap
Sikap berhubungan dengan perilaku manusia. Dalam skala sikap ini
perilaku peserta didik dievaluasi melalui kegiatan pengukuran sikap.
4) Daftar Cek
Daftar
cek merupakan suatu daftar yang berisi subjekdan aspek-aspek yang akan diamati.
Penggunaan daftar cek ini memungkinkan guru sebagai evaluator mencatat setiap
aktivitas peserta didik sekala kecil apa pun.
5) Catatan
insidental (anecdotal record)
Catatan
insidental merupakan catatan singkat tentang berbagai peristiwa yang dialami
oleh peserta didik secara perorangan.